Be happy Debby!!!!

Dua minggu berturut-turut aQ dapet tiket gratis nonton bareng dari Simpati. Dan karena lagi bokek habis, aQ mengajak temen-temen kos untuk bersama-sama ikut dengan syarat mereka yang nanggung ongkos PP sampe kosan… hahahaha

Bukan temen yang buruk kan aku ini? Hanya saja terpaksa berbuat demikian , lho???

Ok, sebenernya…dua minggu ne banyak banget aktifitas yang tak pantas disebut tak menyenangkan. Beberapa kali menikmati keceriaan bersama temen-temen yang klop dan bisa saling berbagi apapun bener-bener menyenangkan.
Tapi herannya, akhir-akhir ini rasanya kok malah merasa sepi…entah sudut mana dari hati ini yang sepi Yang jelas mungkin ini cuma bagian dari proses yang bakalan dialami setiap orang kali yah….

Makanya, atas saran lama dari seorang sahabat yang akhir-akhir ini jarang ngobrol lagi (mungkin masalahnya masih belum selesai), saya berniat menunjukkan hal-hal indah saja yang saya alami minggu ini daripada mengeluh dan mengeluh lagi ^^

(kak Dana , aQ, Cindy dan Mayang)


Foto di atas adalah wajah capek sebenernya karena sepulang kerja langsung nonton ke Grand Indonesia, belum lagi film yang ditonton termasuk film yang lumayan mengasah otak. Judulnya “Inception”.. Cerita ini tentang tingkatan-tingkatan dunia mimpi. Jadi semuanya ternyata cuma mimpi yang bakaln berpengaruh pada kehidupan nyata setiap tokoh dalam film itu. Untuk jelasnya bagusnya bloggers tonton deh neh film…dijamin seru lhoo ^^

(kak Dana, Audy, Fitri, aQ)

Kalo foto yang satu ini adalah foto tadi malam. Lagi-lagi nonton tapi Cindy ga ikut, digantikan Fitri (mantan tetangga sebelah kamar) ^^

Film yang ditonton kali ini adalah film “Kamui Gaiden”

FIlm nya action Jepang, ninja2 gitu…asli seruuu

Thanx to Telkomsel yang udah kasih kita kesempatan bersenang-senang… ^^

Happy weekend plends!

AZA-AZA FIGHTING!

Smangat pagi temans… ^^

hari ini Jakarta cerah setelah semalam hujan deras…
Entah kenapa melihat mentari pagi secerah ini jadi kangen suasana di rumah tante di lampung. Hamparan sawah menguning, suara burung berkicau dan angin yang berhembus lembut membuat hasratku menuliskan berpulu-puluh puisi mengalir sedeeras air sungai dari pegunungan… 🙂

Belum lagi masakan tante yang khas Jawa , bikin kangenku sama Mbok yang jago masak dan melantunkan lagu-lagu Jawa.
Tanteku asli Batak, hanya saja lahir di lampung dan menikah dengan ‘Uda’ (sebutan untuk suami tante di Batak) yang asli jawa tapi juga udah lahir di Lampung.
Sejak mereka pacaran aQ sudah lahir… Sering banget aQ dijadiin alasan tante untuk ngeluyur dan diam-diam bertemu ‘uda’.

Mamaku orang yang paling menentang keras hubungan beda agama dan beda suku ini. Maklumlah, sedari dulu opung (kakek) selalu mendidik anak-anaknya untuk menghormati adat. Meski sampai hampir memisahkan dua hati yang mencintai dengan tulus satu sama lain. Tapi pada akhirnya, pernikahan mereka malah meluluhkan hati semua orang yang awalnya begitu menentang keras hubungan itu.

Aku yang ga mengerti apa-apa waktu itu hanya bisa menonton kejadian-kejadian dramatis mulai dari tante pacaran sampai menikah dan bagaimana keluarga terpecah menjadi dua, satu mendukung, satu menolak keras.
But, puji Tuhan, sekarang semua sudah berjalan seperti biasa. Sudah lewat dari 14 tahun tante menikah, dan semua orang termasuk mamaku sudah menerima semuanya dengan pemikiran bahwa hukum KASIH tak bisa mengalahkan hukum apapun di dunia ini.

Ok, topik utamanya sih bukan tentang tanteku dan pernikahannya yang awanya menyakiti banyak orang, tapi tentang warisan mutlak yang tante berikan untuk kami semua dari hasil pernikahannnya itu. Febby, Awan dan Tian.. mereka anak-anak yang baik dan bijak. Selama tinggal di rumah tante, aku selalu menghabiskan waktu belajar, bermain, berantem sampai ngomel2 mengajari mereka untuk ga malas dan ngompol ^^

Ga terasa mereka yang dulu masih kecil sudah besar… termasuk mungkin adik-adikku di kabanjahe kali yah… Sudah hampir dua tahun aku ga pulang ke rumah, pasti mereka juga makin besar dan menyaingi tinggiku sekarang… ^^
Baru Februari lalu aQ ke Lampung, rasanya mereka sekarang cepat sekali bertumbuh ^^

Karena aQ anak sulung dan mamaku juga anak sulung, jadi sepupu-sepupuku semua sangat mengagumi aku sebagai kakak yang patut dicontoh. Dan rata-rata mereka segan sama aQ, meski sesekali bandelnya kumat juga.
Entah harus sedih atau bangga, kadang menjadi ‘kakak’ ga mudah aku lalui. Karena semua adikku memandang aQ sebagai panutan alias contoh nyata dalam hidup mereka sehari-hari ^^

Adik-adik pasti melihat semangatku karena sejak awal saja udah banyak yang bilang ingin semandiri aQ suatu hari nanti 🙂

Semoga saja bisa jadi kakak yang baik, ^^
Semoga saja melalui hidupku, mereka bisa semangat menjalani hidup mereka ^^

Aza-Aza FIGHTING!!!!!

Ini foto terlucu yang diambil sepupuku si Febby, ceritanya lagi menyebrangi kali kecil untuk bisa sampai di sawah ‘bule Adhit’ mengambil pisang kepok untuk oleh-oleh ke jakarta. Bagi yang mau oleh-oleh masih ada tuh di rumah pisangnya ^^

Nyebrangnya butuh mikir-mikir selama 15 menitan neh… kayunya kecil dan keliatan agak tua jadi agak takut, ternyata masih kuat menanggung berat badan saya yang makin hari makin meningkat ^^ . Karena kelamaan nyebrang akhirnya kaki-kaki saya digigitin semut, sampai-sampai futu pun angkat kaki sebelah sangking perihnya menahan gigitan semut… 😀

Kemarin di buat pisang bakar sama temen-temen kos untuk jadi sarapan 2 hari berturut-turut. Rasanya jadi makin kangen makan pisang goreng buatan Mbah ^^

DUA jadi SATU

Hari Jumat lalu saya berangkat ke Lampung nebeng mobil nenek (opung). Bukan karena mau jalan-jalan, tapi karena ada sepupunya mama yang menikah di sana. Berhubung saya dekat dengan yang menikah, maka saya memutuskan untuk wajib datang ke acara itu.

Saya kan lahir di Bandar lampung. Bahkan mama saya sejak kecil sudah besar di sana. Jadi baik keluarga kandung maupun keluarga yang ketemu di rantau karena persamaan marga banyak sekali yang mengenal mama dan bapak saya.  Yang selalu saya temukan setiap saya bertemu dengan orang yang udah lamaaaaaaaa banget ga ketemu ortu adalah pelukan2 erat mereka dan ucapan kagum terhadap gedenya saya sekarang O_O

Saya maklumin sikap histeris mereka karena saya meninggalkan Lampung di usia 10 tahun dengan tubuh saya waktu itu begitu imut-imut dan lucu. Dibanding dengan sekarang, yang yah….saya sendiri ga sanggup menjelaskannya. wkwkwkwkwkwkw

Ada banyak orang yang memberi kesan-kesan mereka ketika bercerita pada saya tentang ortu saya. Dan saya sangat bangga terutama kepada Bapak saya yang sangat mereka kagumi.
Meski dia ga setampan bapaknya orang-orang di luar sana, tapi Bapak saya memberi kesan yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang mengenalnya. Rata-rata membanggakan keramahan dan jiwa sosial Bapak yang begitu tinggi. Saya semakin bangga ketika banyak orang bilang semakin hari wajah saya semakin mencerminkan wajah Bapak saya.

Tentang ibu saya, ga banyak yang spesial kecuali bagaimana orang-orang yang mengenalnya sejak kecil mengagumi kecantikannya. Yah…dibanding Bapak yang biasa aja dari segi fisik dan status sosial mungkin mama begitu luar biasa. Mama cantik dan jadi primadona di UNILA di tahun 1985-1990.

Selain itu status sosial kakek yang katanya lumayan terpandang begitu berpengaruh terhadap betapa tenarnya mamaku. Namun, semua cuma tinggal kenangan…karena mama dengan kondisi sakitnya sekarang bahkan jarang diingat penggemar-penggemarnya dulu di lampung.

Saya ga bermaksud menyakiti hati mama saya (jika saja dia membaca ini) atau memberikan rasa kagum berlebihan kepada Bapak saya… tapi hanya ingin belajar dari dua orang yang telah bekerjasama untuk menghadirkan saya ke bumi ini ^__^

Dua orang dengan dua karakter dan latar belakang berbeda. Mama dengan rasa bangga atas segala kemanjaannya dan papa yang rendah hati dengan segala perjuangannya menjalani kehidupan yang begitu keras dan menggila ini. Keduanya berpartisipasi membangun karakter saya sekarang. Rasa percaya diri saya tentu saja karena mama, mama selalu mengatakan bahwa saya pintar, saya cantik dan saya ini luar biasa. Pujian-pujian mama membuat saya selalu merasa percaya diri berada di kalangan manapun.

Kebanyakan yang saya warisi adalah karakter-karakter Bapak yang pintar bersosialisasi dan berjiwa sosial tinggi. Buktinya, saya gampang bergaul meski dilempar ke tempat paling kejam sekalipun. Saya berteman dengan banyak orang, bahkan tukang ojek yang sering saya lewatin setiap saya pulang kerja begitu akrab dengan saya.  Bapak ga pernah mengajarkan saya untuk memilih teman, asalkan saya berjanji untuk ga mengikuti teman-teman yang buruk, Bapak membebaskan saya bergaul dengan mereka.

Yang paling diingat teman-teman Bapak ketika mereka bertemu saya adalah senyuman saya yang sangaaaaaat mirip dengan senyum ceria Bapak. Dan kebanyakan yang mengagumi senyuman itu adalah kaum ibu yang semasa gadis ‘katanya’ mengagumi Bapak saya.

Lucu juga sih… saya ceritain ke Bapak bagaimana respon orang-orang itu dan Bapak hanya terkekeh mendengarnya. Sementara ibu saya ngedumel (pura2 cemburu) di belakangnya.

Selain banyaknya orang yang tidak saya ingat memeluk saya dengan penuh semangat, saya juga bertemu dengan tante-tante saya yang sejak kecil sudah bermain-main bareng ke sana ke sini. Jarak kami terpaut 2-3 tahun saja. karena mama adalah anak pertama dan saya adalah cucu pertama, makanya jarak saya dengan tante-tante saya yang bungsu tidaklah begitu jauh.
Itu juga suatu keuntungan buat saya, jadi meski badan saya kadang lebih besar dari mereka, saya masih manggil mereka dngan sebutan ‘Tante’ ^^

Dan keuntungan jadi ‘keponakan’ adalah dimanja sana sini ^^
Meski ga semanja dulu, tapi saya tetep merasa seperti anak kecil saja kalau bertemu tante-tante saya itu.

Hm… ini cerita saya tentang hari pertama, kalau sudah ada futu2 kegiatan saya hari kedua, pasti bakal saya ceritain kejadian lucu di pinggir sawah ^^

Smangat pagi!!!!

Ronggeng Nyasar yang Gagal Audisi

Hihihihihihi….
Sebelumnya makasih wat Mba Isnuansa karena gara-gara postingan dia saya tahu ada kontes The Amazing Picture ini.

Maklum masih newbie (dalam dunia lomba-lombaan) jadi agak kurang gaul kalo ga blog walking ke blog temen-temen yang udah lama berkecimpung di dunia lomba-lombaan.

Futu di atas itu adalah foto saya sekitar April 2009 waktu saya backpacker ke Jogja. Waktu itu masih memakai kacamata dan berambut keriting yaang jarang disisir, ga peduli kulit gosong atau engga yang penting having fun. (beda banget yah dengan saya yang sekarang ) ^^
Ceritanya saya dan 3 orang temen saya dengan 2 motor (berboncengan) dari Jogja menuju Borobudur.

Sudah bosan berpose dengan gaya (sok) manis, maka saya minta difutu dengan gaya gokil seperti ini sampai-saampai semua pengunjung candi yang sungguh megah itu memperhatikn saya. Mungkin dikira saya ‘kesambet’ sampe begaya seperti itu tanpa malu-malu. Ya , ngapain malu, wong saya ga kenal mereka… 3 temen saya dah tahu kok betapa gokilnya saya ^^

Futu ini juga bagian dari kenangan bersejarah saya tentang jalan ke Jogja – Cilacap bawa duit 200rb pulang dengan total uang utuh plus oleh2 sebesar 400rb. (cerita lengkapnya kayaknya dah pernah saya posting deh) ^^
Saya berharap setidaknya setelah setahun lebih kenangan ini tetep bisa menjadi berkat untuk saya, ya…  misalnya saja menang dan dapet award dari pakde Cholik ^^ (AMIN)

Saya beri judul ‘Ronggeng Nyasar yang Gagal Audisi’ terinspirasi dari beberapa kali audisi Idol saya yang gagal dan gerakan tari saya di foto itu yang ‘nyeleneh’

Semoga bisa menghibur bloggers sekalian ^__^

MY LAST DAY in BALI

Tulisan ini dalah postingan teraakhir saya seputar Bali. Tak terasa sudahlebih dari  seminggu kenangan tentang Bali berlalu. Satu-satunya alasan yang membuat saya begitu ingin kembali lagi ke sana adalah keindahan langit dan laut yang terhampar luas mengelilingi pulau kecil nan elok itu. Pantas saja banyak orang tak bosan berlibur ke Bali. Tapi untuk menjadi tempat tinggal saya tetap masih suka dengan ketenangan kota Jogja, kedisiplinan dan keramahan masyarakatnya.

Nah, hari terakhir di Bali… seperti biasa saya dan mba Nunik sehabis berendam dan berbenah menghampiri restoran tempat kami biasa sarapan. Saya merasa harus memanfaatkan keindahan pemandangan dari kamar kami dengan berfoto-foto memakai gaun dan highheels yang saya bawa jauh2 dari Jakarta. Rencananya kan ada GALA DINNER, tapi ga terealisasi karena acara berantakan. Jadi, daripada tidak terpakai, saya akhirnya berfoto2 saja di kamar dengan gaun dan higheels itu. Foto di atas adalah pemandangan dari balkon kamar kami. Di balik pepohonan itu laut biru membentang luas. Dari balkon ini saya sering bolak-balik duduk sebentar untuk menikmati suara ombak dan udara sejuk Bali.

Setelah check out dari hotel, bus kami dibawa menuju tanah Lot. Saya tidak lagi turun ke pantainya tapi sibuk berbelanja. Setelah mendapatkan titipan adik-adik saya yang Oktober nanti akan saya bawa pulkam, saya memutuskan masuk ke bus saja. Udaranya panas menyengat ditambah saya sudah terlalu lelah sejak Jumat berkeliling Jakarta.

Dari tanah Lot kami semua menuju Krisna. Pusat Oleh-oleh di Bali yang harganya setelah saya pikir-pikir sama saja dengan di Jakarta. Sayang banget sih ga bisa ke pasar Sukowati. Padahal saya berniat menjual lagi belanjaan saya jika harganya terjangkau. Ternyata tidak bisa sama sekali…harga2 di Krisna bener-bener mahal. Kejadian lucu di krisna adalah saya dengan cuek memakai celana baru saya di depan kasir setelah dibayar. Maklum, saat itu celana yang saya pakai sangat pendek dan ketat. Kalo di jakarta pake celana itu bisa jadi bahan tontonan. Jadi lebih baik ditonton di krisna daripada di bandara Soekarno hatta kan? hihihihihihi

Lanjut cerita perjalanan aja deh daripada bahas harga-harga di Krisna dan kekonyolan say itu… ^^

Ada yang namanya Ka Ewink usulin makan siang di warung Made. Katanya sih warung itu cukup favorit di Bali. Dan dengan rasa penasaran aku dan beberapa temanpun bergabung memisah dari kelompok menuju warung Made. Suasananya asyik. Udara terbuka dan bule-bule yang asyik makanpun begitu kontras dengan suasana Bali sebagai daerah wisata mancanegara.

Foto di samping ini adalah suasana bar dan dapur Warung Made. Deretan wine, racikan bumbu khas dan meja kasir…

Yang memakai celana putih dan baju hitam itu adalah Pak Made, si empunya warung yang pastinya sangat beruntung. Warungnya ramai dan laku keras. Pelanggannya juga bule-bule jadi otomatis penghasilannya ada dolarnya tuh ^^

Dari Warung Made, kami berpencar. Saya dan Fery memilih mencari sandal ke Joger, sementara kelompok ka Ewink mencari salon pijat terdekat untuk di spa. Memberanikan diri, saya mencari taksi dan menuju Joger. Tempat terkenal yang katanya harganya tak terlalu mahal. Benar saja, dibanding Krisna, harga sendal-sendal di JOGER lebih murah dan bekualitas. Setelah memperoleh apa yang kami cari, buru-buru kami mencegat mobil yang menuju Cental Park dimana bus kami parkir di sana.

Tujuan akhir setelah Joger adalah bandara Ngurah Rai. Bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Ada cerita lucu lho temans… Karena barang-barang saya bertambah banyak, tas saya kepenuhan. Dengan tergesa-gesa dan dibantu Mba Nunik, Fery dan Ibnu, saya memasukkan barang-barang itu dalam ransel dan tas khusus oleh-oleh yang sudah overload. Bener-bener lucu ekspresi kami waktu itu. Sayangnya ga ada yang ambil gambarnya sih ^^

Yang jelas, saya tetap merasa senang sekali bisa menginjakkan kaki di Pulau Dewata dan melihat sendiri keindahan pantainya. Meski beberapa hal membuat saya sedikit kecewa tapi tetap berkesan.

Thanx to Telkomsel dan maaf sempat memaki-maki ternyata salah sasaran, dan thanx juga untuk teman-teman baru yang asyik dan seru untuk pengalaman-pengalamn baru yang bener-bener berkesan buat saya. Especially thanx to my Lord Jesus yang menjawab doa saya di awal 2010, akhirnya saya sungguh-sungguh sampai di BALI ^^

BALI FREE TRIP II

Hari ini menyempatkan diri di sela sibuknya mengerjakan semua tugas sendiri tanpa bos, saaya tetep semangat untuk menuliskan sedikiti pengalaman saya di Bali bersama teman-teman baru.

Karena terlalu bersemangat, saya, Fery, Ibnu dan Mba Nunik subuh-subuh sudah bangun dan berbenah menuju Tanah Lot yang ga juh dari loksi hotel Pan Pacific. Berbekaal semangat dan kamer masing-masing untuk bernarsis ria, kami menyusuri kompleks golf dan melewati rumah-rumah penduduk yang pastinya bernuansa Bali. Udara sejuk bercampur embun pagi menambah semngt kami berempt menyusuri jalan setapak yang menhubungkan loksi hotel dengan kawasan wisat Tanah Lot. Cuaca mendung tak mengurungkn niat kami untuk sampai di sana.

Sampai di bawah, kami dismbut oleh 2 orng petugas penjaga kuil di sana yaang menawarkan kami untuk membsuh wajah dan berdoa. Saya pribadi sih tidak terllu yakin tentang hal-hal mistik, karena saya percaya Tuhana lebih berkuasa di atas segalanya. Tapi karena penasaran, katanya air itu air tawar, maka iseng-iseng saya membasuh wajah saya di sana. Dan benar sjaa teman, entah daari mana air tawar itu. Kalo kata Mb Nunik sih air itu disambungkan dari PAM setempat untuk cari penghasilan orang-orang di sana dibilang aja itu tempat suci ^^ (entahlah….)

Yang jelas setelah diciprat-cipratin sama salah seorang Bapak penjaga, saya minta berfoto bersama mereka.

Setelah puas berkeliling dan berfoto, kami berempat kembali ke hotel dan sarapan masih sambil menikmati pemandangan laut lepas dari restoran dan mendengarkan suara ombak di kejauhan… sungguh kangen lagi menikmati suara dan udara di sana yang juh beda dengan Jakarta.

Kejadian setelah sarapan sepertinya ingin saya lewatkan karena disitulah saya dan rekan-rekan saya diremehkan oleh panitia penyelenggara acara yang sangat tidak profesional. Tapi kami terutama saya tetap berusaha menikmati perjalanan itu. Perjalanan hari itu dimulai dari hotel menuju Dreamland.

Dreamland… Awalnya saya pikir seperti Dufan yang penuh wahana permainan untuk anak-anak ternyata Dreamland bener-bener lahan impian… ^^

Pantainya luas dan pasirnya begitu bersih. Butuh tenaga ekstra untuk menuruni tanah licin yang menjadi satu-satunya cara menuju pantai indah itu. Karang-karangnya kokoh dan banyak ditemukaan di pinggir pantai. Cuaca siang itu begitu terik, tapi tak membuat saya enggan untuk mengabadikan keindahan langit dan ombak yang seakn menyatu di satu titik nun jauh di sana. Sungguh ajaib Tuhan… ^^

Tempat kedua setelah Dreamland adalah Kuta. Tempat yang terkenal di Bali sebagai pantai dengan pemndangan sunset terindah. Makanya kelompok kami dibawa ke sana, tapi sayangnya cuaca sore itu tak secerah cuaca siang di Dreamland. Daripada mengeluh kecewa, sayapun memutuskan  memanggil seorang ibu yang berjalan di sekitar pantai membawa alat-alat manicure untuk menghias kuku saya.Sambil dihias, sedikit-sedikit saya bertanya bagaimana kehidupan ibu itu di Bali. Ternyata, saya masih lebih tau Bali (setidaknya sdah ke Tanah Lot dan Dreaamland) daripada ibu itu yang setiap hari hanya sibuk mencari uang di pantai Kuta dan ga pernah tahu tempat lain selain Denpasar dan Kuta.

Ternyata kehidupan orang-orang Bali ga jauh beda dengan kehidupan di Jakarta. Ada yang sukses banget, ada yang susah bener. Dan di Bali tetep aja ada kemacetan ^^

Kami sempat berama-ramai menyusuri jalan penuh pertokoan di sepanjang jalan menuju Kuta. Sempat juga membelikan tas untuk adikku Obi. Untung saja ga jadi belanja banyak di sana karena setelah esok hariny ke Krisna (pusat oleh-oleh), harga di Kuta lebih mahal lho… dasar tempat wisata ^^

Setelah cukup lelah berjalan-jalan hari itu, kegiatan terakhir menjelang tidur adalah makan malam dengan ditemani musik dan tarian khas Bali yang disuguhkan pihak hotel. Penampilan penari-penari Bali yang matanya indah dan gerak kakinya yang lincah, akhirnya bisa saya nikmati langsung lho… Sungguh pengalaman tak terlupakan ….

Sekiaan dulu laporan saya tentang perjalanan ke Bali hari ke dua ini ^^

BALI FREE TRIP I

Nah…. sepertinya ini cerita yang sudah ditunggu teman-teman semua yah…
My free trip to Bali. Sebelumny mungkin say perlu mengingatakan bahwa perjalanan GRATISAN ini tidak begitu saja saya dapat tanpa melakukan apa-apa. Saya menuliskan sesuatu sehingga saya bisa menjadi pemenang.

Ternyata, acara Nobar dan trip to Bali itu murni gratisan dari sebuah EO yang baru aja akan eksis di Indonesia. Sebut saja PH, dialah yang membiayai segala macam acara yang beratributkan TELKOMSEL (begitulah informasi yang saya peroleh).
Sayangnya, pengaturan (managing) PH sangat-sangat minim. Koordinasi dan kerjasamanya sangat kurang melihat hasil tour GRATISAN ini menorehkan kekecewaan pada beberapa peserta ((termasuk saya)).

Bagaimana ga kecewa, beberapa kali tour mengalami pengunduran waktu, beberapa kali berganti hotel dan yang terakhir yang lebih membuat semacam kecemburuan sosial adalah pembagian group menjadi 2 bagian. Group pertama 4 hari 3 malam, sementara group kedua dua hari dua malam saja. Bener-bener terlalu singkat waktu menikmati perjalanan GRATISAN ini sehingga kelompok II (kami) berusaha menegoisasikan sebuah kompensasi (ga hanya tentang uang), tapi sayang banget…yang kami dapet malah caci maki dari panitia bermasalah itu.

Yah… begitulaah singkat ceita kekesalan kami temans…dibilang ‘GRATISAN’ dan dianggap ga sadar diri udah dikasih gratisan memang itu benar? tapi setidakny kata2 kasar seperti itu ga perlu terucap. Kalo memang tidak ikhlas mending jangan daripada jadi kutuk buat dia karena peserta yang kecewa sempat mengutuki untuk merespon kejahatan lidah si leader EO ini terhadap kami. Apalagi itu event organizer baru dan masih belum terlalu dikenal kok malah buat onar ^^

Bener-bener perjalanan yang menyiksa batin sebenernya, tapi berkat dukungan orang-orang yang sayang sama saya, saya akhirnya bisa berusaha menikmati Bali dengan semaksimal mungkin. Berfoto, belanja, makan, berenang dan yang terpenting mengenal banyak teman baru ^^

29 May jam 14.30
saya, mb Nunik, Fery dan Ibnu berkumpul di kos-kosan harian yang saya cari untuk Fery sebelum berangkat ke bandara:

Dengan sedikit rasa kesal di hati, kami berempat berharap ada pengertian tentang berapa banyak waktu dan materi yang terpakai karena berbagai kesalahan EO yang sempet disangka TELKOMSEL.

29 May Jam 18.15
Pesawat kami delaay 30 menit. AKhirnya kaarena sudah terlalu lapar, kami memutuskan makan di restoran all you can eat terdekat. Bermodalkan Kartu Kredit masing-masing dan bukti tiket penerbangan, kami makan gratis dehhh…

29 May 22.45 WIB
kami sampai di bandara Ngurah Rai, Denpaasar, Bali. Cukup malam lah untuk sebuh perjalanan melelahkan. Pesawat kami transit dulu di Surabaya baru ke Bali. Inilah wajah lelah kami yang menunggu shuttle car menuju Pan Pacific Hotel, Tanah Lot.

Total peserta gelombang kedua adalh 8 orang dri 11 orang yang harsnya ikut. Karena tidak sependapat dalam waktu perjalanan makanya 3 orang membatalkan keikutsertaanya itu.

Sampai di hotel (setelah puas bercengkarama selama dalam perjalanan menuju hotel), kami langsung disambut ramah oleh pihak hotel Pan Pacific Bali. Welcome drink dan disuguhkan dinner (yang terlambat 4 jam) di restoran Nirwana.

Selagi menunggu proses check in, sebelum makan, saya menyempatkan diri menikmati suara debur ombak di kegelapan malam yang bisa kita nikmati dari lobi terbuka hotel tersebut. Sungguh melegakan suasana hati yaang sempet sebel dengan sambutan crew Telkomsel di bandara tadi yang menurut saya kurang bersahabat.

Tidak ada yang spesial ketika sampai di kamar kecuali mengabadikannya sebelum kami buat berantakan… Sayaaa dapat jatah sekamar dengan Mba Nunik. Jadi sudah 3 malam kami melewati malam bersama dalam satu kamar (mohon jangan berfikir macam-macam yah…^^), ditambah 1 malam Mba Nunik menginaap di kos2an saya yang sempit. Yah,,, dibnding kosan saya kamar kami jauh lebih bagus lahhh

Hal pertama yang kami lakukan adalah bergantian berendam dan merilekskan otot2 yang lelah dengan garam spa yang disediakan pihak hotel ^^ (jangan dianggap norak yah temans) maklumlah baru pertama kali nginep di hotel mewaah *_*

Setelah puas bermain air, sebelum tidur saya menyempatkan diri menikmati lagi suara ombak dan angin sepoi-sepoi dari balkon kamar (berhubung AC di kamar terlalu dingin). Tak bisa tidur, maka Ibnu dan Fery nyamperin kami di kamar , ngobrol sampai ngantuk dan lelah…

Sekian dulu laporan perjalanan gratisan saya di malam pertama saya di Bali ^^

cerita selanjutnya akan saya lanjutkan setelah makan siaang yah ^__^

Keliling Jakarta

Setelah hampir seminggu tidak menulis, rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan di sini. Mulai dari perjalanan saya keliling Jakarta menemani dua orang teman baru dari luar kota sampai perjalanan ‘gratisan’ ke Bali yang semula saya kira dari Telkomsel. ^^

Tapi kali ini saya hanya akan bercerita tentang perjalanan keliling Jakarta (berharap saya dapat membuat temen-temen yang menanti review perjalanan ke Bali makin penasaran)…

Dimulai dari kos-kosan saya tercinta.

Bersama 3 teman baru dan 3 penghuni kos Arnely, kami  menjelajah Kota Tua dan Monas juga pasaar Festival dan nyasar mode ON. It’s fun and wondefull….

Pengalaman seru sekaligus menyenangkan. Kekecewaan saya, Mba Nunik, Ibnu dan Fery karena pengunduran jadwal ke Bali sedikit terlupakan dengan acara keliling Jakarta bertujuh.
Nyasar? yeah… meski udah lebih dari 5 tahun di Jakarta tetep aja saya memimpin tour dan nyasar ~_~

Nyasar sampai pasar rumput dan berakhir di depan atrium Senen, sampai2 ga tau malu meminta bantuan (dianterin) sama Pak Polisinya, tapi g berhasil ~_~

Tapi tetep saja kaami masih tertawa meski sudah kelelahan

Semoga lain kali kita yang berkunjung ke Jogja dan Surabaya deh dan jalan2 sepuasnya rame2 lagi… ^^

SEPENGGAL KISAH PERJALANANKU

Dalam perjalanan menuju Jogja beberapa bulan lalu, di kereta aku sempat memperhatikan sepasang remaja belasan tahun yang asyik bersenda gurau di sebuah bangku di sudut sana seakan dunia milik berdua. Sementara di hadapanku dua orang anak kecil, yang lelaki sekita 7 tahun dan yang perempuan sekitar 5 tahun bersenda gurau dengan gurat tawa yang sama. Yang satu begitu polos, yang satu begitu naif 😀

Diam-diam sesekali aku tersenyum melihat tingkah dua sejoli beda generasi di hadapanku.
Aku tak pernah seperti mereka yang di sudut sana… Aku mungkin tak pernah mengerti arti cinta monyet itu 😀 . Tapi mungkin aQ akan coba melukiskan perasaan mereka saat itu melalui seluruh gerak dan geriknya. Setiap gurauan melukiskan betapa tawa mereka mewakili perasaan bahagia. Setiap senyuman seperti pelangi yang berwarna warni, kadang senyum kesal, senyum manja, senyum jahil dan senyuman manis yang lebih sering terlukiskan di wajah mereka. Tapi seperti pelangi pula , semuanya seakan sementara … Karena di sana ada setitik rasa takut. Mereka takut kehilangan satu sama lain, seperti pasir sang wanita menggenggam prianya, seperti itu pula sang pria. Bahkan satu sms pria lain membuatnya begitu terbakar api cemburu. Seperti sengat mentari memudarkan warna pelangi…
Tak berapa lama mereka diam, dan sisa perjalanan mereka habiskan dengan wajah muram… aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah kereta memaksaku turun di stasiun Tugu.

Aku pernah seperti mereka yang dihadapanku. Yang begitu polos dan lugu. Yang tertawa ceria karena lelucon-lelucon yang menurutku tak terlalu lucu. Mereka memaknai setiap sentuhan dengan balasan yang sama. Kamu pukul, aku pukul, kamu gelitik, aku gelitik….
Ahhhh… aQ lebih ingin menjadi mereka yang bertingkah tak pernah terbeban…Yang melangkah begitu ringan dan penuh keyakinan. Meski sekeliling mereka terkadang khawatir mereka terjatuh…
Yang menangis ketika merasa sakit, tertawa dengan suara lepas tanpa beban apapun…
Yang melangkah tanpa memandang kamu berbeda dengan aku, kamu milikku dan aku milikmu…

Sampai akhir perjalanan pasangan kecil di hadapanku masih saja tanpa lelah saling melucu. Bahkan saat menuruni kereta keduapasang orangtuanya begitu kewalahan memisahkan mereka yang terus saling mengganggu. Tanpa sadar aku terkikih lucu memperhatikan mereka sembari menunggu sahabatku…

Ini hanyalah sepenggal cerita lucu perjalananku waktu itu…
semoga teman bisa memaknai semua yang kurasakan waktu itu 😛

^__^