LESSON OF LIFE #2

Pukul 08.25 WIB, kulangkahkan kakiku dari halte busway yang hangat menuju gedung perkantoran di seberang dengan percaya diri, bahwa sang hujan akan berhenti tepat saat aku akan melangkah menyentuh trotoar di seberang sana.
Tapi sayang, keberuntungan tak berpihak lagi padaku pagi itu. Si pemalas ini mencoba mencari-cari sosok yang sering ku temukan beredar di sekitar halte membawa payung besar untuk membantunya menghindari sentuhan kasar titik hujan yang begitu deras.

Yap, di sana dia… seorang ibu bercucu empat itu lagi pikirku.
Jas hujan biru tua yang selalu dipakainya, senada dengan payung biru hadiah sebuah perusahaan asuransi dengan tulisan putih ‘Pr*d*nT*al” yang dipinjamnya dari tetangganya, adalah jejak penanda yang ia tinggalkan setiap kali kami bertemu di musim hujan ini.

” Nenk, ketemu lagi. Seperti biasa kan Nenk?” tanyanya dengan senyum semangat meski mentari malu-malu di balik awan hitam pagi itu.
” Iya Bu.” kusambut payung biru itu dan setengah terburu-buru mulai melangkah menuju gedung kokoh tempatku biasa menghabiskan setengah dari hari-hariku selama 1.5 tahun belakangan ini.

Namanya Nenek Mirah. Umurnya 62 tahun, badannya kurus dan keriput sudah menghiasi wajahnya yang sendu. Senyumnya untukku pagi itu kusyukuri, bahwa hidup hari ini patut disyukuri.
Dia bertanya bagaimana kabar ibuku di kampung dengan suara bergetar, ntah itu kedinginan atau karena terenyuh tentang situasi keluargaku di kampung sejak kami saling bercerita sambil menikmati hujan minggu lalu

” Masih seperti biasa Nek, tanpa Bapak hidup kami terus berjalan. Meski terkadang mama di kursi rodanya dan aku di sela-sela pekerjaanku menangisi kehilangan kami yang begitu dalam. Tapi karena Tuhan memberi kekuatan, kami bisa bertahan. Nenek juga kan? ” Ia tersenyum, matanya semakin berbinar senang mendengar jawabanku.

Dan dalam pertemuan singkat itu ia menceritakan kehidupannya setelah lebih dari seminggu kami tak bertemu. Cucu-cucunya yang nakal, dan anaknya yang suka mabuk dan main perempuan. Juga sang menantu yang telah tiada sejak cucu ke empatnya hadir ke bumi ini.

Namun keluh kesahnya selalu diakhiri dengan ucapan syukur, bahwa ia masih diberi kesehatan oleh Yang Kuasa untuk tidak menjadi pengemis. Menjadi buruh cuci, menjadi ojek payung, bahkan joki 3 in 1 sudah dia lakoni demi keberlangsungan hidup keempat cucu kesayangannya.

Setiap berpisah di depan satpam yang berjaga di pintu gedung , dia slalu berujar ‘ Smoga Ibu Nenk dan Nenk Debby diberkahi kesehatan dan rejeki yang melimpah dari Allah ‘ sambil berharap besok kami dapat bersua kembali dalam hujan.

Yah… hujan mempertemukan kami dan memberi kami pelajaran bahwa hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti ^^

Happy Sunday 🙂

Advertisements

INDONESIAKU SEKARANG…

Tanah Karo, tempat mama juga adik-adikku menjalani kesehariannya, meski kami bukan suku Batak Karo tapi keluargaku sudah cukup lama bertahan di kota Kabanjahe nan sejuk serta ramah penduduknya.
Kini Tanah Karo tertutup abu vulkanik SiNabung. Smakin hari si Gunung batuknya smakin sering dan smua orang smakin panik. Biasanya kesegaran yang terhirup setiap pagi adalah bukti nyata kokohnya Sang Gunung di Tanah Karo, tapi sudah beberapa bulan belakangan embun pagi berganti menjadi hujan abu 😦
Embun yang menyejukkan tiba-tiba menyesakkan. Rasa takut, Lapar, Dingin dan Sesak… semua terkomplikasi lewat erupsimu Bung…

Jakarta…Mount Sinabung volcano spews ash and lava as seen from Erajaya village in Karo district, Indonesia's North Sumatra province
Di sini aku berjuang mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup dan mensupply sedikit hasil peluh untuk adik-adik tercinta… tapi hujan yang tak kunjung istirahat membuat kota besar nan padat penduduk ini mulai digenangi air kotor di sana sini. Berbagai penyakit mulai berdatangan dari si kuman yang tersisa saat banjir datang.

Dan Manado… ??? Ga jauh beda seperti Jakarta dengan masalah banjirnya. Ga disangka, banjir yang dikhawatirkan di Jakarta malah menyambangi Manado dengan lebih dahsyat lebih dahulu. Ayah mencari anak, anak mencari ibu, semua hanyut tersapu si banjir bandang. Tak pandang harta, tak pandang rupa… Bencana, mengapa kamu tega ?

Sementara petinggi negara sibuk dengan urusan politik dan kampanye masing-masing, yang lain sibuk bahu membahu memerangi bencana yang melanda. Yang lain lagi sibuk berdoa memohon ampun. Ada juga yang sibuk meneliti siapa salah, siapa benar padahal bencana tak sibuk mempersalahkan.
Nurani? Kemanakah dia pergi?

Hanya Tuhan Yang Kuasa yang berkenan memberi belas kasih untuk mendidik kita dengan berbagai pencobaan yang Dia ijinkan terjadi saat ini.
Skalipun masih banyak manusia berhati binatang di luar sana, tapi kasih Tuhan untuk bangsa ini tidak akan berkesudahan
Badai pasti kan berlalu. 🙂


Indonesia, May God always bless u ^^

Jelang Tengah Malam

Kutunggu bis kota melintasi jalanan nan sepi di kota metropolitan ini. Tak satupun yang terlihat, hanya beberapa taksi dan kendaraan khas beroda tiga dengan suara berisik yang melintas.

Sedikit gentar, tapi tetap berusaha terlihat tenang, aku meperhatikan sekitar pembatas jalanan besar ini. Beberapa anak dengan wajah begitu ngantuk mempertahankan ketegaran kedua bola matanya. Kelpoak-kelpoaknya nyaris terjatuh…
Ekspresi polos bercampur keletihan tersirat di wajah mereka.

Belum cukup umur….
begitu mereka menyebutnya, tapi sekedar sebutan saja.
Mereka mungkin tak sepintar muridku, Icha. Makanannya saja berbagi dengan si rakus berkedok jas mewah. Apalagi isi piringnya? Semua ikan dan daging terbaik ada di rumah si rakus itu, yang hampir busuk ada di perut mereka.
Tapi, aku tak bilang bapaknya Icha pejabat lho, karena mobilnya tidak bermerek ‘C’ yang katanya harganya pake ‘M’ itu

Masih dengan wajah terkantuk-kantuk, ketika anak-anak lainnya di lampu merah lainnya kupandangi dari dalam metromini yang kutunggu selama 1 jam lebih itu.
Kali ini rambutnya panjang, tapi tak terurus. Tak seperti rambutku yang sebulan sekali aku bawa ke salon sampe kinclong. Kulit mereka tak seindah nyonya-nyonya rakus yang menghabisi uang sosial ke tempat-tempat eksekutif. Salon dan klinik kecantikan nomor 1 bukan rumah kedua mereka, tetapi tiang lampu merah itu tempat mereka bersandar ketika lelah dan kantuk melanda.

Pukul 23.10 WIB, kali ini di atas Kopaja. Seorang kecil lain menaiki tangganya yang sedang ugal-ugalan. Sang supir bak kesetanan menerjang kemacetan di tengah malam.
si kecil nyaris terpental, tapi berpura-pura tenang. Menyanyikan 1 lagu dan memohon kakak, tante, Mbak dan Om kasi duit recehan. Tapi kakak, tante, Mbak dan Om lagi sibuk BBM-an. Untung saya ga punya BB, cuma suka susah beli BBM, jadi saya sempetkan masukin recehan

Di bathin ini berkata, ‘turunnya pelan-pelan, karena mobil ugal-ugalan’.
Tapi ga berani bilang, takut disangka sok perhatian 🙂
Jangan buang sampah sembarangan, tapi kok mereka dibuang?
Mereka bukan sampah dong, jangan digituin dong 🙂

Sampe di tempat tujuan. Udah tengah malam masih tetep rame neh metropolitan.
Katanya ini malam, tapi kok masih macet?
Disana sepi banget….disini macet banget ^^

==================================================================

kutuliskanapayangkupikirkansepanjangperjalananpulangdaritempatmengajar
kuharapakubisajadiorangkayabisabuatbanyakrumasinggahuntukmerekayangtidakbisasinggahdirumahmanapun

jakarta,9Februari2011ditulisdengansetengahngantukdisalindengansepenuhhhati

Kesempatan Kedua

Tuhan melemparkanku ke sebuah arena pertandingan yang cukup menegangkan selama beberapa tahun terakhir ini. Musuh-musuh berbadan besar, tinggi dan kupikir tak dapat kukalahkan.

Seringkali aku kalah, jatuh dan terjerembab, namun tangannya SELALU ada menopangku
Seringkali aku ingin lari dari arena itu, dan mendapati diriku semakin lelah, tak sadar keringatku diseka dengan jubahNya yang begitu lembut.

Pertarungan demi pertarungan itu harus kulalui untuk dapat segera keluar dari arena ini.
Arena Kehidupan yang berarus deras, berbatu tajam, dengan suhu dahsyat yang mengikis ketahanan tubuhku, namun memperkuat jiwaku.

Aku selalu bilang Tuhan tak terlalu baik karena semua ketentuanNya dalam hidup setiap orang. Seakan semuanya yang Dia berikan harus dengan syarat, yaitu memenangkan pertandingan kehidupan.

Namun setelah aku melaluii sesuatu yang terlalu besar bagiku dalam kehidupan ini, aku justru mengucapsyukur meski hal itu belum benar-benar diubahkan. Meski tubuhku terkoyak-koyak, tercabik-cabik oleh semua luka akibat kecerobohanku, entah mengapa semalam dan semalamnya lagi aku cukup tegar tersenyum mengucapkan berjuta syukur.

Tak seperti aku yang biasanya menjadi pecundang. Mempertanyakan banyak hal padahal jawaban sudah kutemukan, menyalahkan hal-hal yang kulakukan kepada semua orang, menyalahkan ketentuan Tuhan karena rasanya dunia begitu tak adil dan tak nyaman.

Aku terdiam ketika melihat bayanganku di cermin, tingkah laku dan kebobrokanku selama kakiku kubanggakan, selama tanganku kuandalkan, selama pikiranku kudewakan…
Tak lagi sanggup meratapi hidupku yang nista ketika Tuhan memelukku dan mengatakan betapa cinta Ia terhadapku.

Tersentak aku ketika saudara-saudaraku dihempasnya jauh oleh air dan panasnya lahar…
Seakan jeritan mereka memintaku segera menentukan langkah-langkah damai dalam kehidupan. Mengalah pada pikiran dan hatiku yang tercabik-cabik karena kebodohan

Jadi…sekarang hidup ini bukanlah tentang kami, aku atau dia, tapi ini semua tentangMu dan semua keagunganMu…

Terimakasih masih memberiku dan yang lain sebuah kesempatan…

Kuharap pertarungan ini kan kuselesaikan dengan baik karenaMu 🙂

HAPPY Iedul Fitr

Selamat Hari Lebaran tuk semua sahabat bloggers dimanapun berada. Dari hati yang terdalam, Debby dan keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila ada sahabat boggers yang merasa tersinggung hatinya dengan tulisan dan komentar-komentar Debby…

Hari ini pasti hari yang sangat bahagia buat sahabat bloggers yang berhasil menjalankan ibadah puasanya dengan lancar dan luar biasa.
Kiranya kebaikan di bulan ramadhan tak berhenti hanya di bulan ini saja, tapi juga selalu dan setiap hari.

Damai di hati, damailah negeri ini…
Kita semua boleh berbeda, tapi satu nusa dan satu bangsa, satu bahasa kita , satu tujuan kita, yaitu untuk slalu hidup rukun bersama dalam perbedaan-perbedaan yang memberi warna indah di antara kita.

Sekali lagi, Debby ucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN!!!

Be happy Debby!!!!

Dua minggu berturut-turut aQ dapet tiket gratis nonton bareng dari Simpati. Dan karena lagi bokek habis, aQ mengajak temen-temen kos untuk bersama-sama ikut dengan syarat mereka yang nanggung ongkos PP sampe kosan… hahahaha

Bukan temen yang buruk kan aku ini? Hanya saja terpaksa berbuat demikian , lho???

Ok, sebenernya…dua minggu ne banyak banget aktifitas yang tak pantas disebut tak menyenangkan. Beberapa kali menikmati keceriaan bersama temen-temen yang klop dan bisa saling berbagi apapun bener-bener menyenangkan.
Tapi herannya, akhir-akhir ini rasanya kok malah merasa sepi…entah sudut mana dari hati ini yang sepi Yang jelas mungkin ini cuma bagian dari proses yang bakalan dialami setiap orang kali yah….

Makanya, atas saran lama dari seorang sahabat yang akhir-akhir ini jarang ngobrol lagi (mungkin masalahnya masih belum selesai), saya berniat menunjukkan hal-hal indah saja yang saya alami minggu ini daripada mengeluh dan mengeluh lagi ^^

(kak Dana , aQ, Cindy dan Mayang)


Foto di atas adalah wajah capek sebenernya karena sepulang kerja langsung nonton ke Grand Indonesia, belum lagi film yang ditonton termasuk film yang lumayan mengasah otak. Judulnya “Inception”.. Cerita ini tentang tingkatan-tingkatan dunia mimpi. Jadi semuanya ternyata cuma mimpi yang bakaln berpengaruh pada kehidupan nyata setiap tokoh dalam film itu. Untuk jelasnya bagusnya bloggers tonton deh neh film…dijamin seru lhoo ^^

(kak Dana, Audy, Fitri, aQ)

Kalo foto yang satu ini adalah foto tadi malam. Lagi-lagi nonton tapi Cindy ga ikut, digantikan Fitri (mantan tetangga sebelah kamar) ^^

Film yang ditonton kali ini adalah film “Kamui Gaiden”

FIlm nya action Jepang, ninja2 gitu…asli seruuu

Thanx to Telkomsel yang udah kasih kita kesempatan bersenang-senang… ^^

Happy weekend plends!

It’s Colourfull Day

Ini hari kedua aku kesiangan datang ke kantor…

Ga terlalu buruk sih, soalnya selama dua tahun 7 bulan bekerja di sini aku ga pernah terlambat. Baru 2x saja ^^

Ok, bukan terlambat’ poinnya…tapi mengapa terlambat? Pertama karena insomnia, kedua karena nonton film yang dibintangi Hillary Duff, ketiga karena pagi-paginya mesti berberes untuk siap-siap nginep di rumahnya pamanku. ^^

Begitu masuk kantor, ga berapa lama si Boss dateng dana kasi pertanyaan yang sungguh-sungguh mengagetkan daku.

” Kalo saya resign, kamu bisa kan gantiin saya, Deb? “

Omigotttttt!!!!!!! Menghandle ‘sebagian’ pekerjaan dia aja selama dia cuti daku masih merasa pontang-panting, apalagi ‘seluruhnya’ ???? *_*

Hm…yang terlintas di pikiranku ketika ditawarkan seperti itu hanyalah ‘Aku OK, kalo gajinya setimpal duonggggg’
Ga munafik, tapi itu kan yang terpenting 😀
Yah…mudah-mudahan boss sya bersedia menaikkan gaji saya setimpal dengan tanggungjawab segudang yang pastinya bakal buat waktu menulis saya berkurang ^^

Ok, itu poin pertamanya hari ini, yang kedua, saya masih terus memikirkan apa yang saya tonton tadi malam (yang jelas bukan ‘video’ ga jelas itu lhooo).
Intinya tentang kasih sayang seorang ayah, ditambah lagi tulisan di blog salah seorang blogger yang saya baca tadi pagi makin menggugah hati saya yang akhir-akhir ne sungguh kangen sama bapak saya ^^

Bapak saya memang bukan jenis Bapak yang cuek tapi care. Saya sering memanggil dia dengn sebutan ‘Bapak Genit’ karena dia ga pernah bisa menyembunyikan rasa sayangnya terhadap saya dan adik-adik saya.
Pelukan, kadang bahkan sudah sebesar ini masih suka menyentuhkan hidungnya di hidung saya ^^
Kalo saya tanya ‘kenapa sih Bapak ini ga malu apa anaknya dah gadis neh Pak…’ setiap dia peluk saya di depan umum, dia selalu bilang ‘Kau kan anakku, ya suka-sukakulah gimana aku mw sayang-sayang dia’ dengan logat lucu khas Batak tp nada Jawa ^^

Atau kalo saya sedang ngomel-ngomel di rumah, Bapak selalu menyentuh bahu saya lembut sambil bilang ‘Tenangkan hatimu, Nak…’ dan sekarang saya baru menyadari efek belaian itu ketika saya berada jauh terpisah beribu-ribu kilometer dari Bapak.

Dan saya berkunjung lagi ke blog lain alias blogwalking dan mendapati bagaimana seorang blogger merindukan pelukan ayahnya, karena ayahnya tuh jenis Bapak yang cool tapi sebenernya baik. Yah setipe sama ayah tirinya Hillary Duff dalam film yang saya tonton semalam.
Saya sekarang merasa sangat beruntung bisa banyak dipeluk oleh ayah saya meski bau keringatnya kadang-kadang membuat saya enggan di dekatnya. ^^
Meski kadang di depan cowo idaman saya dia suka peluk saya tiba-tiba… ^^

Duh….jadi pengen cepet-cepet Oktober….saya berencana merayakan ultah dan dipeluk Bapak di hari ultah saya ke-23 tahun ini.

Poin ketiga… saya kangen sama cinta pertama saya ^^
Akhir-akhir ini saya memimpikan kejadian-kejadian ketika dia masih ‘ada’…
Di Film yang 2 malam lalu (masih dibintangi sama Hillary Duff) saya tonton, si Hilary itu buat sebuah lagu untuk dibawakan dalam suatu kontes di sekolahnya. Dia bikin lagu berduaa gitu deh sama cowoknya… ^^
Saya jadi sampe mimpi waktu first love saya dulu suruh saya buat puisi tentang dia dan saya kemudian dia buat dalam nada2…

Nah…mellow-mellow saya ini dilengkapi dengan lagu ‘Lucky’ Jason Miraz feat Colliat yang ternyata ga sengaja diputer sama partner kerja sayaa ^^
Uhhhhhh,…bener-bener hari yang berwarna-warni ^^

Masih ada satu lagi neh yang buat hari saya berwarna, slain dapet tiket nobar gratis di sebuah kafe di Kuningan, hari ini saya juga dapet tiket nonton Twilight Eclipse gratis dari temen (sesama winner undian Bali) yang memenangkan undian melalui twitter di majalah tertentu. Nontonnya sih besok pagi di Sency, cuma bawa majalah ‘Sister’ yang agak susah dicari sbagai tiket utk 2 orang. Mudah2an dapet deh ^^

Gimana perasaan bloggers hari ini?

SEMANGAT!!!!