Letter To God

Hellow….Happy Monday bloggers…
Gimana weekendnya? Pastinya semua menikmati weekend dengan bahagia yah…

Dua hari , Sabtu – Minggu kemarin Debby ga kemana-mana selain ke gereja. Berdiam diri di kamar kos tercinta dan menikmati waktu beristirahat dengan sebaiknya. Nonton DVD Korea sampai berlinang air mata ^^
Yang paling sedih sih bukan film Korea, ada satu film yang ga sengaja Debby temuin di kamar seorang temen kos…

Film tentang anak kecil penderita kanker yang penuh iman dan selalu menyebarkan semangat positif bagi orang-orang di sekitarnya. Namanya Tyler…
Ayahnya baru meninggal dunia 2 tahun sebelum ia divonis kanker otak. Ga jelas penyebab kematian ayahnya sih, yang pasti ibunya Tyler itu harus membesarkan Tyler dan abangnya yang masih berusia 16 tahun sendirian. Single Mom gitu deh…
Neneknya Tyler adalah orang yang sangat sabar dan penuh pengertian. ia juga yang menguatkan putrinya untuk tegar menghadapi tiap cobaan dan ujian yang Tuhan ijinkan terjadi.

Tyler ini punya kebiasaan ‘curhat’ dengan Tuhan melauli setiap surat yang ia tuliskan setiap hari ketika merenung di atas loteng kamarnya. Dari situ ia merasa selalu begitu dekat dengan Tuhan. Memandangi bintang-bintang dan keindahan yang Tuhan cipta di malam dan siang, dia nikmati sambil menyatakan seluruh harapan dan isi hatinya melalui kata demi kata di selembar surat…

Surat itu ia titipkan kepada seorang tukang pos yang memang punya ‘masalah’ dengan kehidupannya. masa lalunya membuat dia ragu dan tak berani berharap lebih kepada Tuhan. Dia larut dalam perasaan bersalahnya sehingga tak bisa dengan baik melakukan apapun di kehidupan yang sekarang. Kerjanya mabuk2an saja.
Tapi kehidupannya itu berubah ketika bertemu Tyler.

Tyler mengajarkan Brady si tukang pos bagaimana berharap dan berserah penuh kepada Tuhan. Bagaimana caranya kita bisa dekat dengan Dia meski masa lalu kita rasanya tak pantas untuk diampuni.
Tyler juga mengajari Sam (Samantha) sahabatnya untuk tidak cepat marah dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Untuk mengenal Tuhan lebih dekat lagi, menjadi anak yang baik dan tak mengecewakan.

Pokoknya, film ini sarat dengan moral positif bloggers…
Debby ga berhenti nangis, bukan karena cengeng pastinya. Tapi rasanya merasa begitu ‘kecil’ dibanding Tyler yang masih kecil.
Mungkin ga hanya Debby yang pernah berfikir, masalah dalam hidup ini rasanya terlalu berat untuk dipikul. Mungkin ada juga dari antara bloggers yang merasa kesepian. Tapi kita semua punya Tuhan yang pastinya sangat mengasihi kita untuk menanggung beban itu bersama-sama dengan Dia lho…

Itu yang Debby dapat ketika melihat Tyler begitu kuat menanggung segala rasa sakit dan pahitnya obat-obatan yang harus dia hadapi.Tyler begitu terbuka dan bersahabat dengan Tuhannya juga dengan orang-orang yang ia sayangi.

Jadi, siapapun di antara kita yang mungkin masih merasa begitu terbeban dengan skripsi, tugas-tugas kantor, tekanan bos bahkan penyakit mematikan sekalipun… tersenyumlah, sebab hati yang gembira adalah obat dari hati yang sedih.
Semangatmu membuat segala rintangan terasa begitu mudah tuk dilalui…

Satu moral lagi yang luar biasa adalah, Tyler tak hanya pusing dengan semua masalahnya, tapi dia juga begitu perhatian dengan masalah orang-orang yang dia sayangi. Di saat seperti itu mungkin kita ga sempet mikirin bahkan melakukan sesuatu untuk orang yang ada di sekitar kita. Luar biasanya, di saat seperti itu Tyler tetap care dengan sahabat, tetangga dan keluarganya.

Tyler terhibur ketika ia menceritakan dan berharap sesuatu tentang orang2 yang dia sayang….

Hiks….Debby belum bisa setegar dan sepolos Tyler. Jadi pengen nangis lagi neh kalo lama2 cerita tentang film ini T_T

Happy Monday yah teman… Let’s do the best and Be blessed!

MUDIK’s TIME

huaaaa…..

kangen rasanya sama komputerku, kangen nulis, kangen chatting sama temen-temen ^^
Yang pasti ga kangen sama pekerjaan yang numpuk *_*
Seminggu kemarin aku lewati bersama keluarga tercinta di sebuah dataran tinggi di Sumatera Utara, namanya Kabanjahe..sekitar 30 menit dari Berastagi. Atau mungkin ada bloggers yang pernah ke sana juga? ^^

Karena dataran tinggi, udaranya pasti dingin dan sejuk dong…. Apalagi menjelang 17 Agustus kemarin, kebetulan rumah saya sangat dekat dengan lapangan besar tempat upacara-upacara besar diadakan jadi suasananya ramai banget lho…

Jadi terkenang masa lalu…saya dulu pelatih drumband lho…karena prestasi saya dalam baris-berbaris dan kecerewetan saya, makanya saya dipilih melatih sekolah saya dulu.

Agak sedih sih begitu tahu sekolah itu tak menjadi juara sejak tim saya tidak melatih lagi di sana. Jamannya saya dulu masih jadi pemain belira, sekolah saya menang jadi juara 1 lho se kabupaten karo ^^
Sekarang baris-berbarisnnya aja kurang rapih dan kompak seperti kami dulu ^^
Untung bukan saya pelatihnya, bisa-bisa 3 kali saya dinobatkan jadi senior tercerewet ^^

Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di kota Kabanjahe adalah menjemput ortu yang sama sekali tidak tahu rencana mudik saya kali ini πŸ™‚
Sungguh lucu melihat wajah Bapak yang gelagapan ketika melihat saya di depan pintu masuk gereja sesaat sebelum dia mulai bernyanyi paduan suara di depan altar ^^
Apalagi mama yang speechless ketika tiba2 saya memeluknya dengan begitu erat dari belakang ^^

Sampai di rumah masih terasa hangatnya suasana rumah ketika adik-adik saya memberi kecupan sayang di kedua pipi tembem saya ini ^^
Seburuk-buruknya rumah sendiri tetep saja saya masih merasa lebih nyaman di situ dibanding kosan saya yang super nyaman tapi tak dikelilingi keluarga tercinta…

Foto di samping ini adalah foto dua adik saya yang sama-sama dengan saya lahirnya di bandar lampung. Baru sadar ternyata mereka sudah lebih tinggi dan ganteng-ganteng dibanding sejak terakhir ketemu 2 tahun lalu.

Dua-duanya ganteng lho…sapa yang mau daftar jadi ipar saya? Seleksinya berat yah… hihihihihi

Nah, ini adalah Bapak, mama dan Rheina yangselalu mendekap saya sejak awal datang hingga saya akan pulang ^^
Yang dipegang mama saya adalah dompet besar yang ternyata memang lagi dia butuhkan. Senang deh melihat tawa ceria semuanya ^^

Saya dan Rheina berbeda banget. Orang bilang saya mirip Bapak, dan Rheina mirip mama. Kalo someone spesial saya bilang, saya ga mirip keduanya ^^

Gimana menurut teman bloggers?

Melelahkan sih, karena waktunya singkat, tapi menyenangkan bisa bertemu teman-teman lama, berkumpul bareng-bareng bersama keluarga tercinta…
Belum tentu 2 atau 3 tahun lagi bisa pulang, apalagi kesibukan kuliah dan kerja bakal makin padat. Huaaaa….rasanya tekanan beberapa minggu lalu terobati dengan kepulangan saya tahun ini ^^

Baru beberapa hari kembali ke Jakarta, tapi sudah rindu lagi T_T
But i always believe , Tuhan menjaga ortu dan adik-adik saya, juga semua orang yang sayang dan saya sayangi ^^

SEMANGAT DEBBY!!!!
SEMANGAT TEMANS!!!

Weekend with Angels

Weekend kemarin saya menghabiska waktu dengan keluarga terdekat saya di jakarta ini. Ibu saya yang enam bersaudara punya seorang adik perempuan yang saya sebut ‘Tante’ yang sedari saya kecil memang sudah berpartisipasi mendidik saya.

Maklumlah, sejak kecil saya ini tinggal dengan kakek dan pastinya 2 tante dan 3 om yang sangat mengasihi saya.Setiap ada masalah, terkadang saya lebih terbuka sama tante dan om daripada kepada ortu saya. Karena saya pikir, kalopun diceritakan ga akan memberi solusi apa-apa kecuali mereka akan semakin merasa susah hati.

Dari kelima saudara mama sekandung itu saya dekat sekali dengan tante Lina, tante Desi dan Tulang (sebutan utk Om dalam suku Batak) Feruri alias Tulang Uli.
Sejak tante-tante saya berpacaran pun saya sering diajak terlibat sebagai alat untuk mencari alasan. Hahahahaha
Makanya Uda (sebutan utk suami tante dalam suku Batak) saya, sudah mengenal saya sejak mereka belum menikah sekalipun.

Mereka semua sangat sayang sama saya, meskipun kadang saya ini menyebalkan dan keras kepala…Tapi ga seperti pada hubungan saya dengan keluarga lain, terhadap tante dan Om kami tak pernah saling cek cok.
Dan…harta yang paling indah yang saya miliki sebagai anak sulung dari ibu yang juga anak sulung di keluarganya adalah adik-adik…

Sebelumnya saya juga cerita bagaimana adik-adik saya yang di Lampung begitu dkat dengan saya, nah… di jakarta pun ada dua malaikat kecil yang selalu saya rindukan meski baru beberapa jam terpisah…
Pertama kali saya ke Jakarta, Angel masih berusia 7 bulan di kandungan mamanya…
Saya masih ingat bagaimana aktifnya dia di dalam rahim ibunya. Setiap perkembangan Angel membuat saya senang. Sama seperti ketika saya menikmati setiap waktu untuk menunggu kelahiran ‘Rheina Efata’ adikku yang ke empat setelah menanti selama 12 tahun ^^

Ya, saya seneng banget punya adik perempuan, karena itu selalu aja rela menyisihkan uang untuk membelikan adik-adikku pernak-pernik lucu πŸ™‚
Jumat kemarin Michelle (adiknya Ange) berulangtahun. Sepulang kerja (meski Jumat membuat saya sedikit lebih lelah dibanding hari-hari kerja lain) namun tak mengurungkan niat saya untuk mampir ke D’Best Fatmawati sebelum ke rumah tante yang tak jauh dari sana.
Setelah lelah mencari model unik dan lucu akhirnya menemukan satu gaun yang bagus,,,,namun harganya itu booo….
Hampir 300ribu…akhirnya dengan agak lemas karena capek berkelilling akhirnya saya menemukan model dan bahan dan bordiran yang elegan yang nyaris sama dengan gaun pertama tadi dengan harga di bawah 100ribu.
Senyum sumringah bercampur senang setengah mati terpancar di wajah saya, sampai-sampai Mba-Mba pramuniaga terkaget-kage melihat tingkah lebay saya ^^

Sampai di rumah tante, ternyata sudah siap makanan siap saji untuk merayakan ultah Michelle seadanya dengan keluarga terdekat saja.
Senangnya melihat Michelle sedikit lebih gemuk dibanding terakhir kali saya bertemu dengannya.
Dia senang sekali mengendarai sepeda barunya sebagai kado ultah dari papa dan mamanya. Meniup lilin (dibantu mamanya pastinya) dan makan kue, itulah ritual yang dilalui Michelle,

Sabtu di rumah tante aQ masak nasi kungin, ayam goreng , tempe orek dan sambel kemiri has aQ ^^
Hobbyku memasak, belanja sehingga membuat weekend bersama keluarga akhir minggu kemarin terasa lengkap dengan banyaknya orang yang mencicipi dan memuji hasilnya πŸ˜›

bagaimana weekend kalian temans? πŸ˜‰

Ronggeng Nyasar yang Gagal Audisi

Hihihihihihi….
Sebelumnya makasih wat Mba Isnuansa karena gara-gara postingan dia saya tahu ada kontes The Amazing Picture ini.

Maklum masih newbie (dalam dunia lomba-lombaan) jadi agak kurang gaul kalo ga blog walking ke blog temen-temen yang udah lama berkecimpung di dunia lomba-lombaan.

Futu di atas itu adalah foto saya sekitar April 2009 waktu saya backpacker ke Jogja. Waktu itu masih memakai kacamata dan berambut keriting yaang jarang disisir, ga peduli kulit gosong atau engga yang penting having fun. (beda banget yah dengan saya yang sekarang ) ^^
Ceritanya saya dan 3 orang temen saya dengan 2 motor (berboncengan) dari Jogja menuju Borobudur.

Sudah bosan berpose dengan gaya (sok) manis, maka saya minta difutu dengan gaya gokil seperti ini sampai-saampai semua pengunjung candi yang sungguh megah itu memperhatikn saya. Mungkin dikira saya ‘kesambet’ sampe begaya seperti itu tanpa malu-malu. Ya , ngapain malu, wong saya ga kenal mereka… 3 temen saya dah tahu kok betapa gokilnya saya ^^

Futu ini juga bagian dari kenangan bersejarah saya tentang jalan ke Jogja – Cilacap bawa duit 200rb pulang dengan total uang utuh plus oleh2 sebesar 400rb. (cerita lengkapnya kayaknya dah pernah saya posting deh) ^^
Saya berharap setidaknya setelah setahun lebih kenangan ini tetep bisa menjadi berkat untuk saya, ya…Β  misalnya saja menang dan dapet award dari pakde Cholik ^^ (AMIN)

Saya beri judul ‘Ronggeng Nyasar yang Gagal Audisi’ terinspirasi dari beberapa kali audisi Idol saya yang gagal dan gerakan tari saya di foto itu yang ‘nyeleneh’

Semoga bisa menghibur bloggers sekalian ^__^

MY LAST DAY in BALI

Tulisan ini dalah postingan teraakhir saya seputar Bali. Tak terasa sudahlebih dariΒ  seminggu kenangan tentang Bali berlalu. Satu-satunya alasan yang membuat saya begitu ingin kembali lagi ke sana adalah keindahan langit dan laut yang terhampar luas mengelilingi pulau kecil nan elok itu. Pantas saja banyak orang tak bosan berlibur ke Bali. Tapi untuk menjadi tempat tinggal saya tetap masih suka dengan ketenangan kota Jogja, kedisiplinan dan keramahan masyarakatnya.

Nah, hari terakhir di Bali… seperti biasa saya dan mba Nunik sehabis berendam dan berbenah menghampiri restoran tempat kami biasa sarapan. Saya merasa harus memanfaatkan keindahan pemandangan dari kamar kami dengan berfoto-foto memakai gaun dan highheels yang saya bawa jauh2 dari Jakarta. Rencananya kan ada GALA DINNER, tapi ga terealisasi karena acara berantakan. Jadi, daripada tidak terpakai, saya akhirnya berfoto2 saja di kamar dengan gaun dan higheels itu. Foto di atas adalah pemandangan dari balkon kamar kami. Di balik pepohonan itu laut biru membentang luas. Dari balkon ini saya sering bolak-balik duduk sebentar untuk menikmati suara ombak dan udara sejuk Bali.

Setelah check out dari hotel, bus kami dibawa menuju tanah Lot. Saya tidak lagi turun ke pantainya tapi sibuk berbelanja. Setelah mendapatkan titipan adik-adik saya yang Oktober nanti akan saya bawa pulkam, saya memutuskan masuk ke bus saja. Udaranya panas menyengat ditambah saya sudah terlalu lelah sejak Jumat berkeliling Jakarta.

Dari tanah Lot kami semua menuju Krisna. Pusat Oleh-oleh di Bali yang harganya setelah saya pikir-pikir sama saja dengan di Jakarta. Sayang banget sih ga bisa ke pasar Sukowati. Padahal saya berniat menjual lagi belanjaan saya jika harganya terjangkau. Ternyata tidak bisa sama sekali…harga2 di Krisna bener-bener mahal. Kejadian lucu di krisna adalah saya dengan cuek memakai celana baru saya di depan kasir setelah dibayar. Maklum, saat itu celana yang saya pakai sangat pendek dan ketat. Kalo di jakarta pake celana itu bisa jadi bahan tontonan. Jadi lebih baik ditonton di krisna daripada di bandara Soekarno hatta kan? hihihihihihi

Lanjut cerita perjalanan aja deh daripada bahas harga-harga di Krisna dan kekonyolan say itu… ^^

Ada yang namanya Ka Ewink usulin makan siang di warung Made. Katanya sih warung itu cukup favorit di Bali. Dan dengan rasa penasaran aku dan beberapa temanpun bergabung memisah dari kelompok menuju warung Made. Suasananya asyik. Udara terbuka dan bule-bule yang asyik makanpun begitu kontras dengan suasana Bali sebagai daerah wisata mancanegara.

Foto di samping ini adalah suasana bar dan dapur Warung Made. Deretan wine, racikan bumbu khas dan meja kasir…

Yang memakai celana putih dan baju hitam itu adalah Pak Made, si empunya warung yang pastinya sangat beruntung. Warungnya ramai dan laku keras. Pelanggannya juga bule-bule jadi otomatis penghasilannya ada dolarnya tuh ^^

Dari Warung Made, kami berpencar. Saya dan Fery memilih mencari sandal ke Joger, sementara kelompok ka Ewink mencari salon pijat terdekat untuk di spa. Memberanikan diri, saya mencari taksi dan menuju Joger. Tempat terkenal yang katanya harganya tak terlalu mahal. Benar saja, dibanding Krisna, harga sendal-sendal di JOGER lebih murah dan bekualitas. Setelah memperoleh apa yang kami cari, buru-buru kami mencegat mobil yang menuju Cental Park dimana bus kami parkir di sana.

Tujuan akhir setelah Joger adalah bandara Ngurah Rai. Bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Ada cerita lucu lho temans… Karena barang-barang saya bertambah banyak, tas saya kepenuhan. Dengan tergesa-gesa dan dibantu Mba Nunik, Fery dan Ibnu, saya memasukkan barang-barang itu dalam ransel dan tas khusus oleh-oleh yang sudah overload. Bener-bener lucu ekspresi kami waktu itu. Sayangnya ga ada yang ambil gambarnya sih ^^

Yang jelas, saya tetap merasa senang sekali bisa menginjakkan kaki di Pulau Dewata dan melihat sendiri keindahan pantainya. Meski beberapa hal membuat saya sedikit kecewa tapi tetap berkesan.

Thanx to Telkomsel dan maaf sempat memaki-maki ternyata salah sasaran, dan thanx juga untuk teman-teman baru yang asyik dan seru untuk pengalaman-pengalamn baru yang bener-bener berkesan buat saya. Especially thanx to my Lord Jesus yang menjawab doa saya di awal 2010, akhirnya saya sungguh-sungguh sampai di BALI ^^

RAINBOW

Ini adalah gambar yang aku ambil kemaren sore dari kamera HP jadulku yang tersayang. Maklum amatiran, tapi beberapa teman bilang ‘lumayan’ untuk kelas pemula seperti aQ. hahahahaaha

Jangan heran dan jangan bingung, sejak di jakarta aku jarang banget liat pelangi sehabis hujan. Makanya suka ngebela-belain ke luar kota seperti Jogja and Lampung untuk bisa menikmati pemandangan-pemandangan indah sebagai hiburan.

Makanya, bersyukurlah teman-teman yang daerahnya cukup untuk melihat lanmgit luas., Ga terhalang gedung-gedung tinggi di kota Jakarta.
Ngomong-ngomong dan ngemeng-ngemeng tentang pelangi, aku jadi kepikiran (maklum kebanyakan mikir) kenapa ya di antara sekian banyak wara pelangi ga ada yang berwarna hitam?

Lagunya kan begini; ‘merah, kuning, hijau’ di langit yang ‘biru’
Dan menurut ilmu pengetahuan (yang saya dapat dari bangku SD) : (merah jingga kuning hijau biru nila ungu)

Apakah boleh saya mengartikan bahwa Tuhan (sang Pencipta) ga pernah merencanakan yang jahat untuk umatNya???
Ada banyak warna tapi ada yang mirip dengan hitam (nyaris gelap) tapi ga pernah di anggap ‘gelap’ saat kita melihat ‘pelangi’

Yang terlihat dan yang tergambar dari pelangi adalah warna-warna cerahnya.
Tapi coba lihat sekeliling kita, yang terlihat dan tergambar dari kehidupan seseorang bukanlah dari cerahnya… Banyak orang lebih suka bicara tentang gelapnya dan menghakimi satu sama lain.

Sore ini langit mendung… mungkin setelah hujan masih akan ada pelangi, namun ga banyak yang melihat cerahnya. Sama seperti ironisnya gambaran kehidupan manusia dari hari ke hari.

Temans, akhir-akhir ini banyak sekali aku melihat orang saling tuding menuding, saling menyalahkan, ga berita-berita di TV, ga di kenyataan yang terjadi di kantor, di kampus dan tempat-tempat yang ada di sekitarku.
Rasanya kangen melihat kehidupan damai dan cerah….

kangen?
Ak bahkan lupa terakhir kali aku measa semua begitu indah dan rukun. Bukan karena kemunafikan tapi karena ketulusan…

Be Honest…

*_*