BUTTERFLY FLY AWAY

IMG_20140126_212108Si cantik di sebelah ini saya temukan di halaman kampusku kemarin sepulang sekolah. Pas lagi ngobrol sama temen, serasa ada yang mengintip dari tempat duduk di sebelahku, dan mataku tertumbuk pada si cantik ini. And then sisi mellowku ini tetiba mengingat lagu yang aku suka, yang filosofinya diambil dari makhluk bernama BUTTERFLY. Anehnya, si kupu anteng banget beberapa kali aku shoot dengan kamera androidku yang tidak seberapa canggih itu. Seolah dia mengaku sedang mengawasi aku bercengkrama di sana.

Tetiba aku merindukan Bapakku lagi, merindukan senyumnya, merindukan dekapan dan segala nasihatnya di masa lalu.
Kuingat lirik demi lirik dari sebuah lagu yang kusuka ini :

You tucked me in, turned out the light
Kept me safe and sound at night
Little girls depend on things like that

Brushed my teeth and combed my hair
Had to drive me everywhere
You were always there when I looked back

You had to do it all alone!
Make a living, make a home
Must have been as hard as it could be

And when I couldn’t sleep at night
Scared things wouldn’t turn out right
You would hold my hand and sing to me

Caterpillar in the tree
How you wonder who you’ll be
Can’t go far but you can always dream

Wish you may and wish you might
Don’t you worry, hold on tight
I promise you there will come a day
Butterfly fly away

Butterfly fly away, butterfly fly away
Take your wings now you can’t stay
Take those dreams and make them all come true

Butterfly fly away, butterfly fly away
You’ve been waiting for this day
All along and knowing just what to do
Butterfly, butterfly, butterfly, butterfly fly away

Aku seperti si kupu cantik itu.
Perlahan bermetafosa dari gadis kecil yang sangat bergantung padanya, menyanjungnya, mengandalkannya, dan kemudian sampai saatnya aku berdiri sendiri , menjauh darinya sejak semua kesibukan pekerjaan mulai mendominasiku, dan segudang alasan untukku terbang jauh mengikuti arus angin kehidupanku ^^

Satu hal yang slalu membuatku tersenyum adalah kata-kata penyemangat yang selalu ia lontarkan di saat aku mengeluh tentang kejamnya kehidupan fana, tentang banyak hal yang membuatku takut akan hari berikutnya dia berkata, ” Jangan takut Nak… Tuhan akan slalu menjagamu karena doa kami menyertaimu ”

And i miss your pray Dad… i miss your smile and laugh ^^

Butterfly fly away ^^


*sayangnya Miley Cyrus gag sepolos saat dia nyanyiin ini lagu ya, padahal saya ngefans sama dia dulu karena lagu ini*

Advertisements

GOD IS FAIR ?!

Baru-baru ini Deb aktifin FB lagi setelah lama ga nyentuh dunia maya karena sang pacar dulu itu gag suka saya punya dunia di luar dunia dia 🙂 jadi setelah lama ga tahu kabar teman di sana dan di sini, beberapa hari teraIMG-20131129-WA0020khir saya mampir tuh ke profile FB mereka.
Dan tahu gag? Ada yang buat nangis, ada yang buat senang, yang paling sebel adalah saat merasa iri sama apa yang terjadi sama temen-temen selama saya menghilang dari peredaran T__T

Jelek sih sifat Debby ini ya. Kalo liat orang yang tadinya jelek jadi cantik banget, yang tadinya ga eksis jadi eksis banget, yang susah sama-sama dulu sekarang seneng-seneng dewe, rasanya sakit banget ya? gitu ga sih yang kalian rasain sahablog?

Tapi lama-lama kok ya saya tertawa sendiri lihat kebodohan diri ini. Lha masak orang susah aku senang dan orang senang aku susah ya? Ini kan jahat namanya ^^
Dan setelah ngobrol tengah malam lewat WhatsApp sama Kak Jul , kenapa ya pikiran waras saya balik lagi dan malah bisa berhasrat nulis macem-macem di sini ya? #lirik kak Jul#

Jadi ceritanya semalam kita curhat-curhatan gitu soal kerjaan dan lain-lain, dan sejujurnya neh saya menangis pas cerita sama kak Jul beberapa filosofi Alm. Bapak saya yang ga pernah punya musuh karena hatinya yang baik luar biasa itu. Bukan kak Jul sih yang buat saya tobat (biar ga GR si kakak ^^) , tapi keinget sama omongan Bapak saya , kalo ternyata yang buat kita sakit hati tu bukan orang lain lho, tapi diri kita sendiri. Karena kita suka pake ukuran yang salah stiap kali bersikap, berfikir terhadap orang lain.
IMG_20131130_101028
Ya contohnya saya ya… kalo saya ga banding-bandingin temen saya si A yang udah nikah , punya keluarga bahagia , suami penyayang, anak cakep, dengan kehidupan saya yang sekarang yatim, jomblo, masih suka sakit-sakitan, hidup saya bakal nambah sakit kali ya…
Tapi kalo saya bandingin si A sama hidup saya yang penuh cinta karena mama dan adik-adik saya, pekerjaan saya yang luar biasa, teman-teman yang super care dan segudang kebaikan lainnya, pasti saya berhasil awet muda ya karena ga pernah cemberut sama Tuhan ^^

Yah… semalam saya mikir kalo saya jadi si A apa saya sebahagia sekarang ya? Sepertinya gag. Soale sampek sekarang ne saya sedang merajut banyak mimpi yang kalo saya married mungkin ga bakalan bisa terwujud. Kalo saya punya anak kasian kali ya soale saya juga urus diri sendiri masih suka nyeleneh kok. Kalo saya punya suami lebih kasian lagi ya karena saya masih lebih cinta sama diri sendiri sampek sekarang ^^

Kesimpulannya? Tuhan itu adil banget ya? Setuju kan????IMG-20131129-WA0027

o, ya… foto-foto narsis saya di atas itu diambil sehari sebelum Bapak meninggal, saya ada di Puncak rame-rame temen kantor lagi liburan. Dan saya bersyukur karena Tuhan ambil Bapak saya sewaktu saya ada bersama teman-teman yang care sama saya. Kalau bukan karena mereka mungkin saya ga bisa on time lihat Bapak untuk yang terakhir kalinya ya… Mungkin juga saya pingsan sendiri di kamar ya pas denger kabar duka itu, tapi karena ada mereka tangan saya jadi lebih kuat dan hati saya bisa lebih tegar karena doa mereka ^^
Terimakasih ya temans untuk semua perhatian dan dukungan kalian…. 🙂

LESSON OF LIFE #2

Pukul 08.25 WIB, kulangkahkan kakiku dari halte busway yang hangat menuju gedung perkantoran di seberang dengan percaya diri, bahwa sang hujan akan berhenti tepat saat aku akan melangkah menyentuh trotoar di seberang sana.
Tapi sayang, keberuntungan tak berpihak lagi padaku pagi itu. Si pemalas ini mencoba mencari-cari sosok yang sering ku temukan beredar di sekitar halte membawa payung besar untuk membantunya menghindari sentuhan kasar titik hujan yang begitu deras.

Yap, di sana dia… seorang ibu bercucu empat itu lagi pikirku.
Jas hujan biru tua yang selalu dipakainya, senada dengan payung biru hadiah sebuah perusahaan asuransi dengan tulisan putih ‘Pr*d*nT*al” yang dipinjamnya dari tetangganya, adalah jejak penanda yang ia tinggalkan setiap kali kami bertemu di musim hujan ini.

” Nenk, ketemu lagi. Seperti biasa kan Nenk?” tanyanya dengan senyum semangat meski mentari malu-malu di balik awan hitam pagi itu.
” Iya Bu.” kusambut payung biru itu dan setengah terburu-buru mulai melangkah menuju gedung kokoh tempatku biasa menghabiskan setengah dari hari-hariku selama 1.5 tahun belakangan ini.

Namanya Nenek Mirah. Umurnya 62 tahun, badannya kurus dan keriput sudah menghiasi wajahnya yang sendu. Senyumnya untukku pagi itu kusyukuri, bahwa hidup hari ini patut disyukuri.
Dia bertanya bagaimana kabar ibuku di kampung dengan suara bergetar, ntah itu kedinginan atau karena terenyuh tentang situasi keluargaku di kampung sejak kami saling bercerita sambil menikmati hujan minggu lalu

” Masih seperti biasa Nek, tanpa Bapak hidup kami terus berjalan. Meski terkadang mama di kursi rodanya dan aku di sela-sela pekerjaanku menangisi kehilangan kami yang begitu dalam. Tapi karena Tuhan memberi kekuatan, kami bisa bertahan. Nenek juga kan? ” Ia tersenyum, matanya semakin berbinar senang mendengar jawabanku.

Dan dalam pertemuan singkat itu ia menceritakan kehidupannya setelah lebih dari seminggu kami tak bertemu. Cucu-cucunya yang nakal, dan anaknya yang suka mabuk dan main perempuan. Juga sang menantu yang telah tiada sejak cucu ke empatnya hadir ke bumi ini.

Namun keluh kesahnya selalu diakhiri dengan ucapan syukur, bahwa ia masih diberi kesehatan oleh Yang Kuasa untuk tidak menjadi pengemis. Menjadi buruh cuci, menjadi ojek payung, bahkan joki 3 in 1 sudah dia lakoni demi keberlangsungan hidup keempat cucu kesayangannya.

Setiap berpisah di depan satpam yang berjaga di pintu gedung , dia slalu berujar ‘ Smoga Ibu Nenk dan Nenk Debby diberkahi kesehatan dan rejeki yang melimpah dari Allah ‘ sambil berharap besok kami dapat bersua kembali dalam hujan.

Yah… hujan mempertemukan kami dan memberi kami pelajaran bahwa hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti ^^

Happy Sunday 🙂

EMPAT PULUH HARI

Tuhan tersayang ,
Terimakasih untuk penyertaanMu sepanjang hidupku
Terimakasih juga untuk kekuatan menahan pedih, sakit dan rindu yang Kau anugrahkan
Empat Puluh Hari telah berlalu sejak Kau ambil Bapak dari hidupku
Dan aku masih bisa tersenyum menatap pagi, melalui malam dan mengagumi langit di sore hari
Terimakasih…
Photop_20140105074245

Dear God,
Trimakasih untuk mama yang masih memberikan kami kehangatan
Juga adik-adik yang kuat dalam iman untuk menyongsong masa depan
Terlebih untuk waktu yang masih panjang untuk kami perjuangkan bersama
Terimakasih untuk kehidupan ini….

Dear Lovely God,
Kalau boleh sampaikan salam rindu ini pada Bapak di sisiMU
Meski merindu, aku tahu tak boleh lagi menangisi waktu yang lalu
Hanya luapan rindu yang bisa kuhantarkan dan kuluapkan saat ini
Juga iman bahwa Bapak sedang berada di tempat terbaik yang Kau sediakan
Terlebih pengharapan akan hari esok untuk kami yang masih membumi untuk terus berjuang

DEDICATED FOR MY LOVELY DAD…

SELAMAT JALAN UNTUKMU DAN SELAMAT BERJUANG UNTUK KAMI

ANDAI yang TERLAMBAT

Seumur hidup, baru kali ini Debby bener-bener merasa kehilangan. Selama ini , kehilangan kakek, teman, sahabat bahkan pacar sekalipun rasanya lebih mudah dibandingkan kehilangan Bapak. Bapak adalah teladanku, seperti yang pernah kutuliskan beberapa kali di blog ini tentang dia, Bapak adalah idolaku. Pria yang tiada tanding tiada banding dalam hidupku dan keluarga. Bapak, i miss you…. do you miss me too kan????

Jadi anak perempuan pertama, udah pasti deket sama Bapak. Dari kecil sampai gede selalu manja-manjaan sama Bapak setiap ada kesempatan. Bahkan Bapakku selalu menunjukkan betapa sayangnya dia sama aku di depan temannya, saudara dan banyak orang yang dia kenal. Dulu aku kesal dan malu kalau Bapak pamerin aku sama temen-temennya, sekarang aku ga malu memamerkan Bapak dan segala kelebihannya sama semua orang. Bapak, you are the best!

Masih kuingat gimana bangganya Bapak memiliki anak se’besar’ aku sementara badannya sendiri kurus dan pendek. Bagaimana dia memelukku sepanjang jalan sepulang kami beribadah di gereja sambil memamerkan aku ke setiap teman-temannya.Bagaimana kami bernyanyi lagu Batak dan bagaimana dia mengajarkanku tentang banyak hal dengan kelembutan hatinya.

Setiap kali pulang dari Jakarta, Bapak selalu masakin sesuatu yang aku suka supaya aku betah dan berlama-lama di rumah. Mulai dari ikan mas arsik, ikan bakar sampai sambel plus ikan asin bakar khas Bapak. Andai saja Oktober lalu aku pulang dan merayakan ultah bersama Bapak untuk terakhir kalinya, Andai saja aku tahu tahun lalu adalah Natal terakhir yang tersisa untuk kuhabiskan bersamamu Pak….. Andai aja aku tahu tahun ini adalah tahun terakhir kita bisa bersama-sama Pak…. tapi mengapa hanya tubuh yang terbujur kaku itu yang kutemui di ruang tamu rumah kita?

Setiap malam, aku ga bisa tidur sebelum menangis merindukan dia, menyesali waktu yang ga kumanfaatkan untuk bermanja dan membahagiakan dia, menangis dan menangis. Jauh di lubuk  hatiku sudah kuyakini bahwa Bapak sudah tenang dan aman di sana bersama Tuhan yang Pengasih, namun air mata kerinduan dan penyesalan entah mengapa begitu sulit kuhentikan setiap kali aku mengingat wajah dan suaranya yang selalu ceria.

Terlalu banyak kata ‘ANDAI’ dalam hati dan pikiranku tentang bagaimana aku merindukan suasana nyaman di pelukanmu Pak…. Sudahlah,… berhentilah Deb, hari masih panjang…

Semoga saja airmata ini tak memberatkan langkahmu Pak, karena yang kutangisi bukanlah dirimu tapi diriku yang tak mampu melawan kehendak Penciptamu sekalipun dengan bujuk rayu…

Image

Bapak… i love you!

Surat Untuk Bapak

Pak… Selamat Jalan ^__^

Aku di sini baik-baik saja , tenanglah di sana karena kami semua baik-baik saja.

Meski kadang aku masih menangis tersedu-sedu ketika mengenang masa indah selama 26 tahun bersamamu, tapi hidupku terus berjalan. Kuharap aku selalu berbahagia seperti harapanmu Pak…

Menatap langit, mengingat Minggu, membaca tulisan ‘Bapakku” di ponsel android ku membuat aku tak kuasa menahan tangis rindu ini Pak. Kuharap kau tak ikut bersedih melihat itu. Sungguh berat Pak, tapi kau bilang aku yang paling kuat dari keempat adik-adikku kan?

Maka aku akan menjadi gadis kuat yang kau banggakan itu. Menjadi penopang dan penyemangat untuk mama , Obi, Weago, Rena dan Wewin. Tolong sampaikan salamku pada Yang Kuasa, kuharap kuat dan kuasaNya melingkupiku untuk meneruskan tongkat estafet yang kau tinggalkan Pak…

Pak… suatu saat nanti kita pasti bertemu kan? Meski kau tak bisa hadir saat pernikahanku , saat wisudaku, saat aku butuh pelukanmu karena begitu bahagia, tapi kuharap kau tahu Pak,… aku sungguh ingin kau ada di sana tertawa bersamaku 🙂

Aku merindukanmu Pak…. Bersenang-senanglah di Surga.

Sampai bertemu lagi ^__^

GOOD BYE DAD….

30 November 2013 adalah hari paling bersejarah dalam kehidupan keluargaku, dalam 26 tahun kehidupanku dan dalam 26 tahun aku menjadi bagian dari hidupmu,…

Tak ada manusia yang tahu kapan dan bagaimana Tuhan memanggil umatNya untuk kembali pulang. Misi selesai… begitulah kataNya padamu hari itu. Meski baru sejam sebelum kepergianmu, tawamu masih terdengar dari telepon seluler itu…. Meski dering ponsel tanda panggilan darimu masih bergaung sejam sebelum kepergianmu, meski tanpa pesan terakhir kau pergi…. yah… Tuhan memanggilmu dan misimu selesailah….

Tak akan ada yang abadi selain kenangan bersamamu Pak. Kenangan tentang betapa hangatnya pelukan kasih sayangmu, damainya hatiku saat memandang senyummu meski himpitan dunia ini memenatkan hidup kita. Kenangan tentang masa-masa yang tak kan bisa kulupakan dari ingatanku.

Image

Tinggallah selamanya dihatiku Pak… aku sungguh merindukanmu… sampai bertemu di sana suatu hari nanti saat panggilan itu sampai juga ke kehidupanku yang fana ini….

Good Bye My Lovely Dad…