HIDUP ADALAH ANUGERAH

Gara-gara baca dan mengomentari blognya seorang blogger, saya jadi ingin sekali membagikan apa yang membuat saya selalu merasa berbahagia meski bokek dan banyak ditimpa masalah akhir-akhir ini.

Kebanyakan dari kita sebagai manusia biasa, selalu mengeluh dan mengeluh. Sudah kebiasaaan kita termasuk saya, hal pertama yang dilakukan ketika masalah datang adalah ‘mengeluh’. Akhirnya waktu kita habis untuk ngedumel dan berkeluh kesah sampai kepala pusing, mual-mual, ga enak badan bahkan ada yang sampai jadi stroke. Masalah tetap ada juga… malah bertambah dengan penyakit baru akibat terlalu serius memikirkan masalah itu.

Komentar saya itu cuma satu kalimat agak panjang makanya saya potong intinya aja:

anugerah adalah pemberian

Selama ini saya memahami bahwa apapun yang diberikan Tuhan kepada saya adalah anugerah. Hidup, Nafas, pekerjaan, keluarga dan karier saya adalah anugerah. Dan anugerah adalah pemberian. Pemberian ga selalu dalam bentuk dan wujud yang sama dengan orang lain. Anugerah Tuhan itu bersifat sangat unik untuk saya. Anugerah bukaan tergantung pada si penerima, tp si Pemberinya. Jika Ia tak berkenan maka tak ada hak si penerima berrontak, karena hasilnya pasti sia-sia.
Saya meyakini bahwa ketika saya ga mendapat anugerah yang satu, maka ada anugerah lain yang Dia berikan untuk saya yang menurrut Dia sangat pantas saya terima.

Masalah adalah salah satu anugerah buat saya, dan karena cara pandang seperti ini masalah akhirnya tak bisa memberi saya masalah 😀
Berapa banyak di antara kita yang ga punya masalah? Jika ada, berarti hidupnyaa belum diberi anugeraah 🙂 (ini pandangan saya lho)

Saya selalu menantikan kualitas hidup yang berbeda dengan orang pada biasanya. Karena dengan demikian saya merasa sangat ‘spesial’ sebagai seorang manusia.

Bagaimana dengaan teman-teman blogger lainnya?

ENTAH MENGAPA….

Ada banyak ekspresi yang terpendam maupun tercurah di wall FANPAGE SIMPATI ketika pengumuman tentang pengunduran jadwal hadiah tour ke Bali menjadi tanggal 28 – 30 May.
Buat saya pribadi, sedikit kekhawatiran saya akhirnya terselesaikan sudah.

Kamis lalu saya baru saja mempertimbangkan ijin cuti saya untuk hari Senin ini. Yah… di kantor saya, yang namanya hari Senin dan Jumat adalah bener-bener hari yang super duper padat meeting. Selain mempertimbangkan tugas-tugas yang bakal terbengkalai dan terancam tak terselesaikan dengan maksimal (bukan sok profesional lho…) saya juga mempertimbangkan jumlah cuti saya (yang sedang saya tabung) untuk digunakan Oktober ini ketika saya pulang kampung berkumpul bersama keluarga saya tercinta…

Entah mengapa…
Dua dari tiga doa sya sudah terjawab tanpa beban apapun
Mulai dari doa saya yang pertama saampai doa saya yang kedua ini
segala penghalang begitu saja musnah sebelum saya semakin membingungkannya

Entah mengapa….
Tuhan begitu baik terhadap saya
Bukan karena saya ini baik di hadapanNya, tapi saya merasa tahun 2010 ini (meski baru berjalan 5 bulan) ada banyak berkat yang menghampiri saya.

Entah mengapa…
Saya masih terlalu lemah dan sering berbuat dosa, tapi banyak kemudahan dan keceriaan menghampiri saya 🙂

Entah mengapa….
Saya begitu tergerak untuk berbagi perasaan bahagia ini lewat tulisan yang tidak begitu menarik ini
tapi saya yakin, tulisan ini mungkin bisa jadi perenungan pada temans semua, bahwa Tuhan itu begitu baik dan luar biasa kasihNya akan kita makhlk berdosa

Saya ga percaya Tuhan baik hanya ketika kita baik saja…
tapi karena kebaikanNya pula kita harus bisa berbuat baik semampu kita
Tapi saya tetap percaya, sekalipun kitaa begitu berdosa…
Dia tetap mengasihi dan berharap kita kembali kepada jalanNya

Selamat berkeyakinan…. ^__^

AGAMA

Waktu SD, pertama kali guru saya mengatakan bahwa pengertian dasar kata ‘agama’ secara etimologinya adalah ‘tidak rusuh’. Tapi alangkah ironisnya ketika setiap pagi dan malam sebelum dan sepulang kerja saya mendengar dan menyaksikan berita di TV tentang banyaknya kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini di negeri Indonesiaku tercinta.

Suatu malam, setelah begitu lelah membantu tante di rumahnya yang sedang ramai karena ada acara arisan, dengan taksi langganan saya, saya meluncur kembali ke kosan tercinta. Sembari menemani Pak Sopir yang mungkin agak lelah setelah dinas seharian, saya mengajaknya berdiskusi tentang situasi dan kondisi yang nyata terjadi di kota tempat aku mencari sesuap nasi ini, Jakarta….

Dimana-mana masih saja terlihat gelandangan, pengemis dan pengamen-pengamen. Belum lagi rumah-rumah kumuh di sekitar pelabuhan, jalan tol, rel kereta, bahkan di balik mewahnya gedung dan perumahan elite milik pengusaha-pengusaha sukses di kotaa besar nan berwarna-warni ini.

Pak Sopir mengingatkan saya tentang betapa bangsa ini sama sekali sudah ga punya rasa percaya pada siapapun, bahkan terhadap kalangan ‘pembela’ yang seharusnya memperjuangkan nasib ‘wong cilik’. Yahhhh, kejadian di Batam dan Tanjung Priuk jelas sekali memperlihatkan gejala krisis ‘respek’ terhadap aparat.

Saya semakin bingung, katanyaa negara Indonesia ini orang-orangnya ramah dan taat beragama, tapi memaknai kata ‘agama’ saja kok sulit yah. Masih banyak banget orang yang belum mengerti bahwa seharusnya ketika kita mengaku dengan lidah kita bahwa kita adalah makhluk yang mencintai dan mengakui keberadaan Tuhan, berarti kita HARUS juga meyakini dan mengasihi apa yang DIA sudah ciptakan ini. Bagaimana bisa kita bilang kita makhluk berTUHAN ketika kita ga mengasihi dan menghargai ciptaanNya? Cinta TUHAN kok buat rusuh, cinta TUHAN kok korupsi, cinta TUHAN kok ga perduli sama pengemis kecil di jalanan yang hidupnya penuh kekurangan? dimana nurani kita?

Dulu saya bangga menjadi warga negara Indonesia karena beragam kebaikan2nya, sekarangpun saya bangga, karena Tuhan masih mengasihi negara ini, meski telah terlalu banyak dosa yang terjadi di sini.

Dulu saya pikir negara Amerika yang menganut paham liberal dengan prinsip “Emang Gue Pikirin’ seperti itu adalah negara paling jahat. Ternyata kita semua bisa liat…berapa banyak bantuan yang telah Amerika berikan untuk negara-negara lain seperti Indonesia?
berapa banyak anak-anak yang menjadi warga negara disana bisa bersekolah gratis dengan hasil pengumpulan pajak?
Hm…apakah kita tak merasa bahwa kita adalah bangsa yang munafik? Yang mengatakan bahwa kita adalah negara beragama namun masih saja ga memiliki kasih dan cinta sesama?

Entah sampai kapan situasi seperti ini terus berlanjut… tapi seperti pesan saya pada Pak Sopir nan baik hati lagi ramah dan santun, bahwa kebaikan kecil dari setiap hati yang LURUS pasti akan mendapat jawaban indah suatu hari nanti…
sekalipun kita merasa, mengapa hanya saya yang LURUS, tapi percayalah temans, seperti nila merusak susu sebelanga, saya juga percaya setitik kebaikan suatu saat kan merusak sejuta kebobrokan…

Mari wujudkan makna AGAMA dalam kehidupan kita sehari-hari,

Salam damai!

SUKSES

Komposisinya sempurna
Tak tergantung situasi
bukan tentang nominalnya
lalu apakah ia?

Ia adalah sebuah keputusan
sebuah proses tentang kehidupan
sebuah kualitas yang tak ternilai dengan kuantitas

Mencapainya butuh segala pengorbanan
tak hanya sekedar waktu dan tenaga
tapi juga tentang perasaan yang tercurah di dalamnya
tentang proses kehidupan dan segalanya

SUKSES adalah TOTALITAS
100 % IMPIAN dan HARAPAN
100 % IMAN
100 % Kerja Keras
100 % SEMANGAT pantang menyerah

dan yang terpenting

100 % DUKUNGAN TUHAN

apakah kamu siap menghadapinya?

Good luck!

BERBEDA

Aku suka menjadi berbeda
ia membuatku mudaah dikenal
Meski kadang aku dikucilkan…

Aku dan perbedaan
setiap fana melekat akannya
hanya seonggok debu berjalan
tapi ia membuat warna-warni semarak

Sekalipun semua berbeda
Mengapa tak mau dianggap beda?
Apakah ia suatu kesalahaan???

Aku tetap melangkah dengannya
Melihat beragam uniknya
memaknai setiap warna dan bentuknya
Namun tetap memberiku satu keyakinan tentang fana

tak ada yang abadi
kosong dan fana bedanya
hanya bumi memberi pertanda hidup
tentang segala beda dan lagunya

apakah kamu berbeda?

TELUR PASKAH

Kenapa semua orang bicara tentang telur ketika Paskah ya?

Dulu waktu aku masih berusia 6 tahun guru sekolah Minggu bilang, bahwa telur melambangkan kehidupan baru. Karena Paskah menandakan kehidupan baru umat yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhannya maka telur dinilai cukup PAS untuk melambangkan perayaan itu.

Setelah dewasa (dan berfikir ttg banyak analogi menarik) akhirnya aQ menemukan sesuatu dari telur yang menarik untuk dipahami sebagai makna Paskah.
telur ketika menetas mengalami proses retak, remuk, hancur.
Anehnya, kebanyakan acara di Sekolah Mingguku dulu ga mewakili analogiku ini. Yang dilambangkan mereka adalah telur yang utuh bukan telur yang menetas :))

Masih inget ga sama perjamuan terakhir ketika Yesus memecah roti dan membagi-bagikannya kepada murid-muridnya?
Seperti halnya telur, aku teringat seperti itulah Yesus ketika menyerahkan hidupNya untuk kita semua. Ia memang secara kasat mata telah mati, hancur dan penuh luka seperti telur yang menetas tadi. Tapi ketika dia bangkit, dia menjadi SEMPURNA.

Telur yang menetas ada yang jadi tangan, sayap, mata, kaki…itulah gambaran kita manusia sebagai satu kesatuan di dalam Dia yang menjadi kepala atas hidup kita.
Seperti itulah hati kita yang Dia bentuk menjadi sempurna. Dia biarkan hancur pecah dan diubahkan menjadi baru 🙂
Sudahkah kita mengalami kehancuran? Apakah kita pernah mengalami remuk redam dan mati secara rohani? 🙂

Adalah lebih berharga ketika seorang datang dengan hati yang remuk redam daripada dengan kesombongan…
Orang yang mau hancur dan remuk berarti mau mengalami proses menjadi sempurna. Ketika melakukan dosa, apakah kita mau datang dengan remuk redam hati kita mengaku dosa kita dan berjanji untuk ga melakukannya lagi?

Semoga catatan kecilku kali ini bisa jadi bahan perenungan temen-temen yang menyambut perayaan Paskah Minggu ini, SELAMAT PASKAH !!!!

God bless