Aku Merindukanmu…

Tuhan menitipkan aku padamu…
Gadis keras kepala yang manja dan super sensitive
Gadis yang selalu merasa pemikirannya yang paling benar
Gadis yang menurutmu paling cantik setelah cinta sejatimu…

Hampir dua puluh lima tahun kau mengenalku dengan sangat baik, bahkan terkadang lebih memahami aku dibandingkan diriku sendiri.
Lipatan-lipatan di wajahmu merupakan beberapa bukti tentang betapa susah dan payahmu membesarkan aku, melihatku bertumbuh dengan segala tingkah polahku
Keegoisanku dan kecengenganku tak pernah membuatmu marah, kau hanya slalu berusaha memberiku pelukan dan ciuman di keningku seperti biasanya ketika aku begitu kesal dan marah…

Setiap hari kau berjuang dengan penuh kesabaran.
Tak kenal lelah menghabiskan hampir seluruh waktumu untuk memperjuangkan aku dan empat orang lainnya bertahan menghadapi kehidupan kami selanjutnya.
Menghadapi cinta sejatimu yang tak jauh berbeda sikapnya denganku.
Kepanikan dan ketergesa-gesaan yang diwariskan olehnya membuatku sering menjengkelkan hatimu.

Tapi tak pernah kulihat raut marah di wajahmu…
hanya saja, aku begitu menyesal setelah membuat wajah ceriamu bersedih melihat kenakalanku…
Tapi tak sering kuucap maaf ketika seharusnya kata-kata itu benar-benar harus kuucapkan, namun kau tak pernah bilang kecewa padaku…

Seperti hari ini, seperti waktu-waktu sebelumnya…
Sering sekali aku tak bisa mengendalikan emosiku yang tak memahami kesibukanmu mencari nafkah.
Lagi-lagi aku kesal karena kau terkesan tak peduli padaku, tapi ciuman jarak jauhmu selalu ampuh meluluhkan hatiku yang keras…
Senyumanmu yang slalu terlukis di hati dan ingatanku membuatku melunak.
Dan semua reaksimu yang selalu membuat aku merasa begitu beruntung memilikimu membuatku tersadar akan baiknya Tuhan menitipkan aku kepadamu…

Bapak..
Kaulah teladan hidupku
Tak pernah aku temukan lelaki sesabar dan setegar dirimu dalam hidupku
Skalipun berpuluh lelaki yang lain mengatakan ‘cinta’ padaku, tapi tak ada yang bisa menyayangi dan mencintaiku sepertimu…
Hidup untuk mengasihi kami dengan tulus, membuat kami begitu berharga meski kita tak punya apa-apa slain cinta dan iman…

Bapak…
Tetaplah di sisiku, sampai suatu hari nanti tiba saatnya kau membiarkan aku pergi dengan lelaki yang bisa memberikan kasih sayang terbaik sepertimu, genggam aku agar aku tak jatuh…

Bapak…
Diluar sikap keras dan marahku akan semua hal yang tak bisa kupahami dari dirimu, aku sungguh ingin kamu tau, aku sungguh menyayangimu…

Aku rindu padamu, Bapakku….

Percakapan Aku dan Daku

A : Ga tau kenapa hatiku mulai merasa beku. Menunggu terlalu lamakah?Atau karena tekanan psikis yang aku terima darinya?Tapi aku masih berharap hubungan ini berhasil…

D : Aku sudah bilang, dia bukan yang terbaik. Dia memang baik, tapi bukan yang terbaik.

A : Tapi aku sungguh-sungguh mencintainya

D : Kamu yakin ini cinta?Bukan emosimu yang seperti biasa meledak-ledak bak bom Bali I dan II?

A : Sebenarnya aku tak tahu apa artinya cinta, aku hanya bisa merasakannya. Dan aku merasa bersamanya aku bisa bahagia.

D : Cinta saja ga buat kamu bisa bahagia.Pakai logikamu!

A : Kenapa dia berubah? Salahku katanya…. aku juga yang harus mengubahnya.

D : Kau sungguh keras kepala…tapi logikamu entah kau sembunyikan kemana.Dia memberimu tekanan psikis, dan aku sungguh tak suka melihatnya…

A : Setidaknya dia tidak memberiku tekanan fisik.

D : Sekarang iya, esok setelah resmi kau miliknya? Pikirkan pendapat orang tua dan keluargamu…

A : Aku tahu, aku juga tak ingin ada yang terluka lagi.

D : Jadi? Selesaikanlah semua…

A : Aku belum sanggup melakukannya.

D : Arghhh…aku ingin kau berhenti saja. Dirimu terlalu berharga untuk dia lukai lagi dan lagi.

A : Aku takut…terlalu takut tak bisa menemukan laki-laki lain sebaik dia.

D : Apanya yang baik? Caciannya?Makinya?

A : Dia masih punya sisi lembut, meski penyampaiannya tak selembut hatinya.Situasinya memaksanya bersikap seperti itu.

D : Situasi?Pasangan sejati adalah pasangan yang mampu melewati segala situasi dengan luar biasa. Bukan dengan caci maki, menuduhmu penyebab dari kegagalan-kegagalannya.

A : Aku lelah berdebat denganmu…

D : Aku juga lelah mendengarnya mencaci makimu sesuka hatinya.

A : Andai waktu bisa kuputar kembali…

D : Tak ada kata terlambat. Bangkit dan katakan padanya kau tidak membutuhkannya lagi. Kamu pasti bisa menemukan laki-laki baik yang siap menerima lebih dan kurangmu…

A : Aku takut..terlalu takut gagal untuk beribu kali lagi. Usiaku, Waktuku….semua begitu mahal harganya

D : Hey..usiamu 25 thn, masih panjang untuk kau isi dengan cinta yang lebih berkualitas. Dia terlalu sia-sia untuk kau pertahankan.

A : Menurutmu ada yang bisa menerima aku? Penyakitku, Masa laluku, dan segala hal buruk yang kulalui yang berpengaruh terhadap emosiku?

D : Apakah pernikahan tak bahagia atau hidup bahagia yang kau inginkan?

A : …..

D : Sudahlah, hitung saja berapa banyak orang yang menyayangimu yang suka kalian bersatu dan yang tidak suka kalian bersatu…

A : Entahlah…aku yakin hasilnya tak sesuai dengan inginku.

D : Lakukanlah inginmu dan jangan pernah bertanya lagi. padaku, pada semua orang…nikmatilah itu…

A : Lama-lama kau seperti si “V*R*”

D : Dia bertindak sebagai sahabat yang benar menurutku.

A : Tapi dia tidak akan membantuku ketika aku melewati masa-masa sulit setelah semua ini.

D : Kau yakin? Bukankah hatimu terlalu rapat tertutup untuk semua kemungkinan? Di kepalamu hanya ada pertanyaan yang sebenernya sudah terjawab tapi tak kau indahkan…

A : Kau semakin berterus terang.

D : Ini karena kau memaksaku. Aku cukup lelah hingga tak merasakan kantuk lagi beberapa malam ini…

A : patut saja mataku masih mengantuk.

D : Doa adalah jawaban semua pertanyaanmu. Jangan pernah pakai lagi kekuatanmu yang tak seberapa itu…

A : …

D : Hidup ini tak cuma tentang urusan ‘cinta-cintaan’. Nikmati saja dan jangan pernah mau terjajah oleh perasaanmu sendiri…

A : Sudahlah, aku kerja dulu!

D : Kau selalu saja begitu….

 

 

Dimana Letak Surga Itu?

Kalau baca judul postingan ini, jangan fikir saya sedang menuliskan kembali lirik lagu Agnes Monica idola saya yah… Tapi ini pertanyaan konkret dari seorang anak kecil yang tak sengaja saya temui di salah satu ibadah di gereja beberapa minggu yang lalu. Dia tanya sama mamanya begini ‘ Ma, Tuhan Yesus katanya sudah naik ke surga yah?Jadi surga itu di atas ya Ma?’
Sambil bertanya si anak mendongak ke langit cerah di atas kami dengan wajah penuh pertanyaan. Saya juga terhipnotis dan ikut melihat indahnya awan berarak di atas langit biru yang indah di atas sana sambil bergumam, ‘Mungkin benar, karena dari bawah sini keindahan surga bisa saya nikmati’

Besok adalah hari peringatan kenaikan Isa Almasih. Buat yang beragama Nasrani seperti saya, selamat merayakannya yah…
Kata ‘naik’ membuat saya tertarik mengulas dan menyelami pengertian tentang’surga’. Orang bilang surga itu di telapak kaki ibu. Ada yang bilang surga itu sebenarnya ada di atas langit ke tujuh. Dan ada pula yang bilang sebenernya sorga adalah dunia ini, yang dimana pada suatu saat tertentu memberikan ‘sorga’ bagi sebagian orang.

Saya ga akan bahas tentang dimana sebenarnya letak surga itu, karena saya belum pernah ‘jalan-jalan’ ke sana.Yang jelas saya mau bahas tentang apa arti surga dalam kehidupan saya. Karena saya masih hidup di dunia, pengertian terbatas saya tentang surga adalah sebuah tempat yang isinya kebaikan. Kebaikan yang ga egois, tapi kebaikan yang sifatnya seimbang, selaras dan tidak merugikan lingkungan sekitar.

Meski bumi ini tak bisa dibilang ‘surga’ tapi sebenernya buat saya terkadang bumi ini menjadi’surga’ buat saya.
Suatu hari, saya melihat keindahan bumi dari atas pesawat kemudian saya berfikir, sebenernya dari awal Tuhan menciptakan bumi untuk menjadi surga buat umatNya. Sayangnya, kebencian, iri hati, keserakahan menjadi dominan sehingga bumi yang tadinya seindah surga ini perlahan-lahan mirip neraka ^__^. Neraka yang panas karena lapisan ozon menipis, kebakaran hutan, penebangan pohon secara liar diganti dengan kemewahan bangunan-bangunan komersial yang semuanya itu dipicu oleh keserakahan hati manusia.

Sgala hal yang baik dan jahat ini timbul dari dalam hati setiap manusia. Jadi, menurut Debhoy, surga adalah gambaran/efek yang terpancar dari hati manusia yang pastinya berisi kebaikan. Meski kebaikan-kebaikan kecil, tapi bisa menghasilkan keindahan di sekitarnya.
Sayangnya, masih banyak orang yang apatis tentang bumi dan isinya yang merupakan anugerah Yang Kuasa untuk manusia tapi mengharap banyak pada potensi bumi yang begitu luar biasa yang telah dikurasnya secara brutal.

Jadi aku melanjutkan lamunanku tentang pembicaraan singkatku dengan adik kecil tadi. Aku bilang padanya, ‘Surga itu ada di hatimu, Sayang…’ sambil berharap kelak setelah dia dewasa, dia tetap menjaga surga di dalam hatinya.

Apakah sahablog setuju dengan kesimpulan saya bahwa surga seharusnya ada di hati kita?

Selamat menyambut liburan panjang buat yang menikmatinya (saya ga libur panjang T__T)

Cinta Seumpama……

Meski bulannya cinta sudah lewat, tapi rasanya Debhoy kepingin merangkum beberapa teori tentang cinta yang paling menarik yang saya setujui dan pernah saya alami. ^__^

Pertama :

cinta itu seperti pasir dalam genggaman tangan. Semakin erat digenggam pasir akan habis tapi kalau tak digenggam sama sekali (diletakkan di telapak tangan yang terbuka) pasti akan kehembus angin sampai tak bersisa. Karena itu jangan menggenggam cinta terlalu erat ataupun tak digenggam sama sekali. Biarkan dia berada dalam genggaman yang PAS…Gampang-gampang susah kan???

Teori ini pernah terjadi dalam kehidupan nyata saya. Meski belum benar-benar habis karena menggenggam terlalu kuat, tapi sejujurnya Deb baru saja mengalami fase menggenggam cinta terlalu erat sehingga nyaris saja habis tak bersisa.

Kedua :

Cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit ga ditahan malu.
Ini sih pernah saya alami semasa SMP dan SMA. Jangan anggap saya sudah pacaran lho di masa SMP dan SMA. Semasa sekolah saya teguh memegang prinsip ga akan pacaran sampe lulus sekolah dan bisa cari uang sendiri. Karena prinsip ini juga kali yah saya agak agresif, lho?
Saya berani mengungkapkan rasa suka saya yang kelewat sakit kalau dipendam terhadap 2 orang cinta monyet saya. Yang satu di SMP, yang satu di SMA.hehehe

Tapi ga sampe 1 tahun saya udah lupa tuh sama perasaan saya itu. Seperti ‘kentut yang lama ditahan’ (maaf..). Memang dia berbau tapi cuma sebentar kok…heheheh
Maksudnya, saya lama menahan diri untuk bilang ‘suka’ tapi begitu diungkapkan teman-teman heboh meledek saya (malu),kemudian saya dengan mudah melupakan rasa suka yang cuma cinta monyet itu begitu saja.
Sampai sekarang kalau ketemu 2 orang yang saya suka itu, rasanya saya masih malu deh.. (hahahaha)
Yang bertahan ketika cinta sama seperti kentut, adalah rasa MALUUUUUUU…. ^__^

Ketiga

Cinta itu seperti kopi yang sudah diseduh.
Kopi lebih nikmat diminum perlahan-lahan selagi panas. Maksudnya diminum sambil ditiup-tiup gitu lhoo…
Bagi pecinta kopi seperti saya, mungkin sependapat dengan saya yah…
Kopi yang terlalu dingin rasanya kurang nikmat. Letak keharuman dan kenikmatan kopi adalah ketika asapnya masih ‘ngebul’.

Seperti itulah cinta yang pernah saya alami oleh seseorang yang sudah menjadi bagian dari masa lalu saya. Terlalu lama membuat saya menunggu sampai cinta saya ‘basi’ dan sudah dinikmati orang lain, rasanya maknyosssssssssssssssssss sakitnyahhhh buat dia (bukan bermaksud mensyukuri yah….) Mungkin maksud hati malu-malu kucing ulur-ulur waktu akhirnya kopi saya dinikmati orang lain.

Bagaimana perumpamaan cinta sahablog?
Apakah ada yang lebih menarik dari perumpamaan saya? share di sini duong…..

Happy Tuesday!!!

Being Loyal with Your Couple

Hari ini di kantor ada kaum adam yang bilang perempuan itu udah kodratnya diselingkuhin, diduain, dimadu, dan segala istilah lain yang menjurus ke kalimat ‘perempuan adalah kaum penderita’ .WHAT!!!???

Kemarin siang, di kos-kosan, ada kaum hawa yang bilang, laki-laki tanpa uang dan perhatian sama dengan NIHIL. Kodratnya laki-laki tuh diporotin, diselingkuhin, dibikin serba salah…. WHAT??!!!

Akhir-akhir ini, saya yang ketinggalan jaman ataukah mereka yang terlalu pintar???
Deb ga mau membahas atau menyingung prinsip apalagi yang mengena ke RAS yah… Deb cuma mau bahas, kesetiaan masih ada ga sih di dunia nyata ini? hehehehe *lebay ga yah pertanyaannya?

Eranya atau manusianya yang sudah terlalu maju neh?
Anggap aja si A yang komen soal kaum adam itu anak umur 19 tahun, yang baru pacaran sama 12 kaum adam sejak umur 14 tahun, WOW???
Anggap juga si B yang komen soal kaum hawa itu laki-laki paruh baya yang sudah beristri, punya 1 anak (dan bukannya mau menilai orang dari jumlah materinya) tapi sepertinya untuk kasih nafkah 1 istri aja si B udah ngos-ngosan… T__T

Dan, ga munafik lho, banyak manusia yang remaja sampe dewasa masih berpola pikir seperti si A dan si B (smoga aja di antara anggota keluarga saya ga ada yang begitu).
Banyak cara orang membenarkan kesalahan mereka dengan membuat teori baru yang ga masuk akal seperti itu di dunia nyata ini. Kalo semua yang salah dianggap benar bisa kacau dong yah dunia sebentar lagi, hehehe

Deb ga tahu pendapat sahablog semua tentang poligami dan poliandri. Tapi yang Deb tau siapapun manusianya ga akan ada yang mau dimadu (ini dari hati yang terdalaaaaaaaaaam lho bukan karena aturan-aturan dan paham-paham tertentu).
Karena, Allah aja pencemburu, apalagi manusia…

Seseorang itu dinilai sangaat berharga tuh karena KESETIAANNYA, betul ga?
Contoh kecilnya, perusahaan manapun pasti mencari karyawan yang loyalitas alias setia sama tuh perusahaan dari segi cintanya sama perusahaan, lamanya bertahan diperusahaan itu sampai kualitas kerjanya yang ga itung-itungan.
ORang yang pengalaman kerjanya di atas 3 tahun di satu perusahaan dibanding orang yang setiap perusahaan pindah2 cuma bertahan maksimal 6 bulan biasanya yang dipekerjakan yang mana pasti sahablog dah pada tahu jawabannya kan…

Gitu juga dengan kehidupan cinta, siapapun orang yang membenarkan ketidak setiaan dalam suatu hubungan menurut Debby orang itu belum cukup berharga. Kalo bahasa becandaannya, ‘cintamu semurah gorengan di jalan raya’ *haha

Ini cuma renungan singkat aja untuk dipikirkan. Kata orang, susah ya cari pasangan yang baik dan setia, tapi kadang kita ga mikir, apa kita udah setia atau belum kalo kita dapet pasangan yang setia dan baik.
Wanita lemah di ‘telinga’, lelaki lemah di ‘mata’.
tapi yang memutuskan apa yang didengar dan dilihat adalah baik atau buruk sebaiknya pakai HATI NURANI dan Akal Budi
kita, Sob…