AND SHE WAS GONE THIS MORNING

Pertengahan tahun 2008, saya dan Mba Sukma menyusuri daerah Kemanggisan dan sekitarnya untuk nyari kos-kosan dengan suasana nyaman dan murah. Ya, setelah berkeliling dan hampir putus asa mencari, pilihan kami tertumbuk pada sebuah rumah berpagar hijau yang terlihat sejuk dan suasananya hangat.

Rumah itu ga tampak seperti kos-kosan lain yang bentuknya kaku. Hanya ada 6 kamar yang dijadikan kos-kosan dan bentuknya seperti rumah tinggal pada umumnya. Karena itu saya merasa seperti tinggal di rumah sendiri.

Lebih kurang 3 tahun lamanya saya menikmati kebersamaan dan seolah melebur menjadi keluarga bagi Tante Sambira sang induk semang. Dipertemukan dan menjadi dekat dengan banyak teman yang berbeda latar belakang dan pekerjaan , memiliki keluarga baru yang dipertemukan karena kasih, rasanya menakjubkan berada di rumah itu. Jl. Anggrek Nely Murni II blok C nomor 6 menjadi saksi bisu keceriaan dan kegaduhan kami setiap malam sepulang dari pekerjaan masing-masing.  Meja makan adalah tempat kami mencurahkan berbagai macam kejadian yang kami hadapi di luar sana untuk bertahan dari kejamnya Jakarta…

Tapi semua tinggal kenangan…

Tadinya kerinduan akan kenangan bisa sedikit terhibur dengan berkunjung sesekali ke rumah itu. Tapi hari ini, saya harus lagi merasakan duka yang mendalam. Tante Sambira telah dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa L . Dia pergi meninggalkan banyak kenangan yang sangat membekas di hati saya.  Dan kesedihan itu termasuk tentang semua kenangan yang akan memudar tentang kos Arnely tercinta 😦

our MemoryDimulai dari saat dimana pertama kalinya saya mengajak kedua orangtua saya ke Jakarta, dan tante Sambira menyambut mama dan Alm, Bapak dengan ramah dan bersahaja. Orangtuaku menerima kesan yang begitu luar biasa disambut dengan kebaikannya. Kemudian saat beberapa teman pria datang bertamu di rumah itu.

Saya masih ingat betapa usilnya tante mengintip saya dan teman pria saya dari balik jendela ruang tamu, hanya untuk memastikan bagaimana rupa sang pria yang mendekati saya yang sudah seperti anak perempuannya. Juga bagaimana ketika saya dirawat di RS Harapan Kita karena tensi dan demam yang sangat tinggi tengah malam di suatu hari, tante dengan hati keibuannya memberikan saya perhatian, doa dan banyak bantuan. Setiap kali saya tidak makan di saat Sabtu dan Minggu datang, Tante Sambira selalu tahu saya sedang irit karena biaya kuliah yang cukup besar bagi saya saat itu. Dia selalu menawarkan saya makan siang atau makan malam, sehingga tak terhitung betapa baiknya dia buat saya.

Juga kenangan berdua Tante beribadah bersama beberapa kali di hari Minggu, dan suatu malam ikut menghadiri persekutuan doa di dekat rumah yang biasa dia hadiri. Semuanya… semuanya teringat dan membuat saya lagi-lagi menangis  T__T

Masih saya ingat bagaimana semangatnya kami menuju Bandung, melayat Alm. Bapak dari teman kami Riska, dan Tante yang penuh sabar seolah menjadi ibu penjaga kami saat itu 🙂

Dan hari ini saya begitu bersemangat ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya….

Tante, Selamat Jalan. Sampai bertemu suatu hari nanti di sana 😦

Sampaikan salamku untuk Bapak jika bertemu ya Tan….

Advertisements

26 thoughts on “AND SHE WAS GONE THIS MORNING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s