ANDAI yang TERLAMBAT

Seumur hidup, baru kali ini Debby bener-bener merasa kehilangan. Selama ini , kehilangan kakek, teman, sahabat bahkan pacar sekalipun rasanya lebih mudah dibandingkan kehilangan Bapak. Bapak adalah teladanku, seperti yang pernah kutuliskan beberapa kali di blog ini tentang dia, Bapak adalah idolaku. Pria yang tiada tanding tiada banding dalam hidupku dan keluarga. Bapak, i miss you…. do you miss me too kan????

Jadi anak perempuan pertama, udah pasti deket sama Bapak. Dari kecil sampai gede selalu manja-manjaan sama Bapak setiap ada kesempatan. Bahkan Bapakku selalu menunjukkan betapa sayangnya dia sama aku di depan temannya, saudara dan banyak orang yang dia kenal. Dulu aku kesal dan malu kalau Bapak pamerin aku sama temen-temennya, sekarang aku ga malu memamerkan Bapak dan segala kelebihannya sama semua orang. Bapak, you are the best!

Masih kuingat gimana bangganya Bapak memiliki anak se’besar’ aku sementara badannya sendiri kurus dan pendek. Bagaimana dia memelukku sepanjang jalan sepulang kami beribadah di gereja sambil memamerkan aku ke setiap teman-temannya.Bagaimana kami bernyanyi lagu Batak dan bagaimana dia mengajarkanku tentang banyak hal dengan kelembutan hatinya.

Setiap kali pulang dari Jakarta, Bapak selalu masakin sesuatu yang aku suka supaya aku betah dan berlama-lama di rumah. Mulai dari ikan mas arsik, ikan bakar sampai sambel plus ikan asin bakar khas Bapak. Andai saja Oktober lalu aku pulang dan merayakan ultah bersama Bapak untuk terakhir kalinya, Andai saja aku tahu tahun lalu adalah Natal terakhir yang tersisa untuk kuhabiskan bersamamu Pak….. Andai aja aku tahu tahun ini adalah tahun terakhir kita bisa bersama-sama Pak…. tapi mengapa hanya tubuh yang terbujur kaku itu yang kutemui di ruang tamu rumah kita?

Setiap malam, aku ga bisa tidur sebelum menangis merindukan dia, menyesali waktu yang ga kumanfaatkan untuk bermanja dan membahagiakan dia, menangis dan menangis. Jauh di lubukย  hatiku sudah kuyakini bahwa Bapak sudah tenang dan aman di sana bersama Tuhan yang Pengasih, namun air mata kerinduan dan penyesalan entah mengapa begitu sulit kuhentikan setiap kali aku mengingat wajah dan suaranya yang selalu ceria.

Terlalu banyak kata ‘ANDAI’ dalam hati dan pikiranku tentang bagaimana aku merindukan suasana nyaman di pelukanmu Pak…. Sudahlah,… berhentilah Deb, hari masih panjang…

Semoga saja airmata ini tak memberatkan langkahmu Pak, karena yang kutangisi bukanlah dirimu tapi diriku yang tak mampu melawan kehendak Penciptamu sekalipun dengan bujuk rayu…

Image

Bapak… i love you!

Advertisements

16 thoughts on “ANDAI yang TERLAMBAT

  1. Kehilangan orang yang sangat kita sayangi tentunya akan membuat kita merasa rapuh dalam menghadapi kenyataan. Tapi aku yakin mbak Deb, kalau beliau tidak ingin melihatmu rapuh atau terlihat rapuh seperti itu karena semua ini memang kenyataan yang tidak bisa kita tolak karena sudah janji Allah SWT bahwa “Setiap yang bernyawa pasti akan mati”.

    Semangat mbak ๐Ÿ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s