DEWASAKAH AKU???

Setelah lama ga menuliskan apapun yang ada di hati ini, akhirnya kepenatan yang Deb rasa sungguh tak dapat terbendung lagi. Melalui banyak hal hanya dengan curhat sana sini, emosi tak tersalurkan yang malah membuat sakit penyakit meradang, akhirnya Deb memutuskan untuk ga mau lagi lari dari realita.
Bukan realita namanya jika tak mengaduk-aduk segala jenis rasa yang ada di pikiran , hati dan perut. Lapar terus karena stress, sampe-sampe akhirpekan lalu dilewati dengan perut super kram pertama kalinya seumur hidup.
Dan beginilah dialog saya dengan dokter Jumat sore silam…

D: Keluhannya apa Bu?
S: Maaf Dok, saya masih single, berasa tua kalo dipanggil ‘Ibu’
D: Maaf ya Mba (sambil senyum-senyum salah tingkah, melihat saya dengan lebih teliti seakan bilang ‘kok mukanya tua ya?’
S: Perut saya sakit Dok, rasanya ini namanya kram.
D: (masih senyum) memangnya Mba tau kram rasanya gimana?
S: Ya seperti ini neh, sakit Dok… (sambil menahan kesal dan rasa sakit yang ga jelas gimana mw menjelaskan rasanya)
D: Biasanya kram perut diakibatkan oleh kondisi kejiwaan penderitanya Mba. Apa akhir-akhir ini Mba mengalami masalah yang begitu berat?
S: Iya Dok…masalah di kantor yang ga bisa saya terima sampe sekarang, rasanya kepala pusing kalo udah mikirin setiap hari harus bekerja di sana Dok.
D: Oh, kalobegitu saya buatkan resep untuk Mba minum selama seminggu ini. Sebenernya stress seperti ini sering terjadi pada karyawan-karyawati yang workholic apalagi di Jakarta ini. Tapi obatnya adalah kedewasaan kita menyikapi hal-hal yang menekan psikologi kita itu Mba.
S: Jadi menurut dokter orang stress seperti saya belum dewasa? (dengan wajah meringis saya malah menjawab pertanyaan sang dotker itu)
D: Maaf Mba kalo Mba merasa penilaian saya salah (sambil memberikan kertas resep dengan terburu-buru)

Setengah menahan tangis, sampe di rumah pikiran rasanya makin penat. Mau ga mau, harus cari sang pacar untuk curhat. Selesai curhat gamblang soal masalah di kantor, lagi-lagi respon yang kuharapkan dari beberapa orang dekat kurang memuaskan. Sang pacar cuma bisa bilang ‘Bodoh’ , ‘Pengecut’, dan ‘Penakut’ serta ‘Tak Dewasa’
Bertambah lagi beberapa kata-kata perusak mood di kepalaku. Apakah bener aQ seperti itu?

Curhat sama beberapa teman, bahkan rasanya semua langkah emosionalku memang kekanakan. AQ cuma bisa bengong-bengong semalaman, merenungkan, sambil sesekali terisak-isak ga jelas di ruangan tempat aQ tidur. Sesekali ke ruang depan berharap seseorang datang menjelaskan apa dan bagaimana aQ harus keluar dari masalah demi masalah ini.
Yang ada, sekarang kepala cuma pusing saja, ga bisa mikir apa-apa, cuma bisa liat-liat seabrek pekerjaan, seliweran orang di ruangan, dan menahan sakit d perut yang masih ‘kram’ tapi lapar, ditambah leher sampai punggung berasa baru digebukin orang se RT karena salah posisi tidur semalam.

Betapa tak dewasanya saya ketika curhatan ga jelas kemarin ternyata jadi bumerang wat saya yang kemungkinan bakal gagal bergabung sama perusahaan tempat dia bekerja. Setelah nulis kok perasaan sudah tenang yah?
Ternyata cuma ini kali cara saya meluapkan emosi ga jelas kemarin.

Setelah nulis, mungkin akan ada yang bertanya ‘Dewasakah Kamu, Deb?’
Oh, sudahlah, cukup sekian!

Advertisements

12 thoughts on “DEWASAKAH AKU???

  1. deb, yang penting lu introspeksi diri aja dan berusaha untuk menjadi lebih baik. try to do your best.
    jangan terlalu mikirin orang lain ngomong apa… lu yang tau apa yang terbaik untuk diri lu sendiri kan…

  2. Dear Debby,
    Sebagai dokter saya akan berkata dari sudut pandang dokter aja.

    Kami para dokter selalu panggil pasien dengan “Pak” atau “Bu”. Bukan karena mereka nampak tua atau lain-lainnya. Begitulah cara kami menghormati mereka.
    Saya sendiri jarang denger dokter manggil “Mbak”, biarpun belum menikah pun selalu dipanggil “Bu”. “Mbak” itu hanya untuk gadis-gadis di bawah umur, yang kira-kira berumur 20 tahun ke bawah, yang masih ingusan, pokoknya yang nggak mandiri deh.

    Turut bela sungkawa buat sakit perutnya. Semoga kramnya bisa segera hilang. Semoga masalah psikologis pribadi yang dialami Debby segera selesai, jadi perut Debby bisa terasa nyaman kembali. 🙂

  3. terbukti, menulis bisa melatih kedewasaan
    (heheh.. padahal sy sendiri gak paham betul dgn definisi kedewasaan yg relatif).
    kalo sy pribadi, soal dewasa yah soal tanggung jawab aja. itu yg membedakan dgn kanak-kanak.
    selama bisa bertanggungjawab pd diri sendiri dan pd kewajiban; kantor, pergaulan, hubungan, keluarga, agama dan negara..hehehe..
    oh yah, salah satu ciri kedewasaan bukannya terletak pd tingkat stress. Bukan pd kemampuan mengelola stress.
    stress artinya kita membebani diri atas ragam persoalan, karena kita merasa berkepentingan, peduli dan bertanggunjawab atas soal2 tsb..
    jd menurut sy, mbak adalah orang dewasa… 🙂
    salam..
    nice posting, gan.

    • wah….makasih banget bro!
      saya jadi termotivasi sama komentarnya ^^
      apalagi bagian

      salah satu ciri kedewasaan bukannya terletak pd tingkat stress

      salam kenal!

  4. itulah resiko kerja ditempat orang lain yg juga bnyk pgwainya, qt hrus siap dengan watak orng2 dsekitar yg tentu brbeda dg qt, ada yg suka ada yg enggak, yg pnting qt kerja dg bnar, tunaikn kwjiban qt terhdap prusahaan dg baik, jangn trlalu mnganggap prktaan orng lain,, itu hnya akan mnguras emosi qt,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s