Jelang Tengah Malam

Kutunggu bis kota melintasi jalanan nan sepi di kota metropolitan ini. Tak satupun yang terlihat, hanya beberapa taksi dan kendaraan khas beroda tiga dengan suara berisik yang melintas.

Sedikit gentar, tapi tetap berusaha terlihat tenang, aku meperhatikan sekitar pembatas jalanan besar ini. Beberapa anak dengan wajah begitu ngantuk mempertahankan ketegaran kedua bola matanya. Kelpoak-kelpoaknya nyaris terjatuh…
Ekspresi polos bercampur keletihan tersirat di wajah mereka.

Belum cukup umur….
begitu mereka menyebutnya, tapi sekedar sebutan saja.
Mereka mungkin tak sepintar muridku, Icha. Makanannya saja berbagi dengan si rakus berkedok jas mewah. Apalagi isi piringnya? Semua ikan dan daging terbaik ada di rumah si rakus itu, yang hampir busuk ada di perut mereka.
Tapi, aku tak bilang bapaknya Icha pejabat lho, karena mobilnya tidak bermerek ‘C’ yang katanya harganya pake ‘M’ itu

Masih dengan wajah terkantuk-kantuk, ketika anak-anak lainnya di lampu merah lainnya kupandangi dari dalam metromini yang kutunggu selama 1 jam lebih itu.
Kali ini rambutnya panjang, tapi tak terurus. Tak seperti rambutku yang sebulan sekali aku bawa ke salon sampe kinclong. Kulit mereka tak seindah nyonya-nyonya rakus yang menghabisi uang sosial ke tempat-tempat eksekutif. Salon dan klinik kecantikan nomor 1 bukan rumah kedua mereka, tetapi tiang lampu merah itu tempat mereka bersandar ketika lelah dan kantuk melanda.

Pukul 23.10 WIB, kali ini di atas Kopaja. Seorang kecil lain menaiki tangganya yang sedang ugal-ugalan. Sang supir bak kesetanan menerjang kemacetan di tengah malam.
si kecil nyaris terpental, tapi berpura-pura tenang. Menyanyikan 1 lagu dan memohon kakak, tante, Mbak dan Om kasi duit recehan. Tapi kakak, tante, Mbak dan Om lagi sibuk BBM-an. Untung saya ga punya BB, cuma suka susah beli BBM, jadi saya sempetkan masukin recehan

Di bathin ini berkata, ‘turunnya pelan-pelan, karena mobil ugal-ugalan’.
Tapi ga berani bilang, takut disangka sok perhatian πŸ™‚
Jangan buang sampah sembarangan, tapi kok mereka dibuang?
Mereka bukan sampah dong, jangan digituin dong πŸ™‚

Sampe di tempat tujuan. Udah tengah malam masih tetep rame neh metropolitan.
Katanya ini malam, tapi kok masih macet?
Disana sepi banget….disini macet banget ^^

==================================================================

kutuliskanapayangkupikirkansepanjangperjalananpulangdaritempatmengajar
kuharapakubisajadiorangkayabisabuatbanyakrumasinggahuntukmerekayangtidakbisasinggahdirumahmanapun

jakarta,9Februari2011ditulisdengansetengahngantukdisalindengansepenuhhhati

Advertisements

37 thoughts on “Jelang Tengah Malam

  1. maaf…mba….. aku nyasar keblog sini,, mo nanya jalan pulang kemana yach? yang punya blog bilang gini”: heh… sapa lo?…hehehe ” sorry.. but anyway thats a nice post….. Kaburrrrrrrrrrrrrrrr ah,,,,,,,,,

  2. Mbak Debby sayang… Denuzz suka banget sama tulisan ini. Sarat dengan rasa kecewa mendalam, tapi disampaikan dengan bahasa yang sangat indah… πŸ˜€

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  3. hmmm…
    masih banyak Debby , anak2 jalanan yg tak terpenuhi kebutuhan hidup mereka, padahal mereka2 ini berhak utk dapat pendidikan dan hidup layak.
    katanya UU , anak2 miskin dan terlantar akan dipelihara negara .
    namun kenyataannya , merekalah yg memelihara diri mereka sendiri .
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s