SELAMAT TIDUR

Sudah lama kayaknya saya nyatakan bahwa saya malu menjadi bangsa Indonesia yang ternyata cuma bisa berkoar-koar lewat tulisan, puisi dan segala bentuknya yang cuma jadi wacana belaka.

Bukan karena saya sok idealis, tapi karena saya belum punya kapasitas penting untuk maju dan memberantas segala perusuh di dalam pemerintahan negara yang katanya ‘kesatuan’ ini. Mungkin begini juga pendapat teman-teman yang ‘kabur’ ke luar negeri…
Merasa ‘tak berharga’ di negara sendiri.
Biasanya sih memang begitu, setiap orang yang melakukan kebenaran, justru ditolak di tempat ia berasal lho…

Di tempat kerja, saya dididik untuk menghargai waktu, tanggungjawab dan kepercayaan yang diberikan atasan. meskipun kadang saya melanggar, tapi saya malu jika tidak segera memperbaikinya. Jadi saya tidak habis fikir, ketika banyak manusia-manusia berpendidikan tinggi diatas sana yang TIDAK MALU dan TIDAK JERA ketika publik tahu perbuatan-perbuatan jahatnya. Mereka masih bisa ‘ngeloyor’ jalan di mall-mall, di tempat-tempat berkedok ‘kebaikan’ , mengobral harga diri demi segenggam kekuasaan dan setumpuk berlian…

Sungguhh pemandangan memilukan ketika saya tadi malam melewati beberapa kolong jembatan dalam kondisi macet disepanjang jalan. Peminta-minta, mulai dari ibu-ibu sampai anak balita, pengamen yang suaranya merdu sampai yang tak bersuara, nenek-nenek tua yang meminta-minta di jembatan penyeberangan, apakah semua itu mereka lihat?
Atau karena mereka melewati jalanan dengan bebas hambatan dipandu sirine-sirine yang membuat telinga serasa gamang. Gamang aku melihat mereka yang punya hati tapi tak digunakan. Otak mereka terlalu sibuk dengan ‘uang’ sampai-sampai hati mereka menjadi usang.

Banyak orang pesimis terhadap kelangsungan bangsa ini, entah saya bodoh atau dungu tetap percaya bangsa ini pasti akan mengalami perubahan.
Tapi sepertinya perubahan masih tertutup awan tebal. masih banyak gumpalan air mata yang siap menetes demi langit biru.
Langit biru? Bukan…sepertinya langit hitam… ^^

Akankah ada mentari yang mampu mengembalikan langit biru kami?

Saya sampai tak mau menonton TV karena saya yakin banyak berita duka disana. Banyak ketidakadilan yang membuat tekanan darah saya meninggi… Saya malu, tapi saya hanya mampu mengumpat kesal setiap kali menyaksikan penderitaan rakyat kecil yang hidup mengais-ngais kolong meja pejabat terhormat.

Baiklah…sepertinya tulisan ini akan kembali menjadi wacana belaka bagi presiden, wakilnya dan para petinggi yang terhormat…
Saya harap wacana ini bisa menjadi salah satu koleksi untuk mereka, lumayan untuk mempertebal daftar pekerjaan yang tak mungkin dikerjakan…

Mudah-mudahan kalian tidur nyenyak malam ini bapak-bapak pejabat yang terhormat….

SELAMAT TIDUR….

ditulis dengan air mata

oleh suara kecil

Advertisements

12 thoughts on “SELAMAT TIDUR

  1. rasa yang sama yang lagi saya rasakan.. miris.. sakit.. sedih..
    sampai terkadang apa guananya mereka yang setiap hari berdebat yang katanya “Untuk kepentingan rakyat???”

    fiuh.. sudah sangat melelahkan semuanya..

  2. yah kita cuma bisa berharap ya… semoga aja.. kondisi negara kita bisa segera membaik…
    emang susah nih kalo para petinggi gak pernah mau turun lapangan, ngeliat real life rakyatnya…

  3. apakah mereka bakalan tidur nyenyak?……. I hope they wont ever sleep well………… I hope every night nightmare haunted them……. hheh….. bakalan gitu terus dh kalo kerjaanya ga bner.. 😆
    mereka hanya bisa tidur di kursi empuk sidang paripurna……

  4. Sebagai anak bangsa jangan pesimis nduk.
    Mari kita bangun negara ini dengan cara kita, fungsi kita dan bidang tugas kita masing-masing.
    Mereka yang mengemis, melacur dan menggelandang itu kan salah mereka sendiri. Mau enaknya saja tapa kerja keras, tak mau belajar.

    Coba perhatikan para pelacur itu. Mereka berangan-angan membangun rumah bertingkat, punya mobil mewah dan uang berlimpah. Tapi caranya yang salah. Jangan pemerintah yang disuruh mencari solusinya. Wong melacur tersesat sendiri kok pemerintah yang suruh cari solusinya.

    Mbok Nah, Mbok Jah berani berjalan berkilo-kilo meter untuk memecah batu dan mendapatkan upah untuk hidupnya kok. Lha pelacur mau enaknya sendiri. Hanya menjual tubuhynya, merusak rumah tangga orang dan menyebar penyakit. Itu bukan kelalaian tetapi kesengajaan. Perut dijadikan alasan.

    So, berbuatlah nduk. Walau sedikit itu sudah merupakan sumbangan untuk negaramu. Dan yang lebih penting, serukan kalimat ini : ” Jika tak mau ikut membangun yo jangan merusak “.

    Salam hangat dari Surabaya

    • iy Pak Dhe…Deb masih percaya kok ada perubahan untuk Indonesia oleh orang-orang yang masih berbudi luhur, bernurani dan tak egois….
      Saya slalu berusaha melakukan yang terbaik Pak Dhe, untuk kelangsungan negeri ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s