DUA jadi SATU

Hari Jumat lalu saya berangkat ke Lampung nebeng mobil nenek (opung). Bukan karena mau jalan-jalan, tapi karena ada sepupunya mama yang menikah di sana. Berhubung saya dekat dengan yang menikah, maka saya memutuskan untuk wajib datang ke acara itu.

Saya kan lahir di Bandar lampung. Bahkan mama saya sejak kecil sudah besar di sana. Jadi baik keluarga kandung maupun keluarga yang ketemu di rantau karena persamaan marga banyak sekali yang mengenal mama dan bapak saya.  Yang selalu saya temukan setiap saya bertemu dengan orang yang udah lamaaaaaaaa banget ga ketemu ortu adalah pelukan2 erat mereka dan ucapan kagum terhadap gedenya saya sekarang O_O

Saya maklumin sikap histeris mereka karena saya meninggalkan Lampung di usia 10 tahun dengan tubuh saya waktu itu begitu imut-imut dan lucu. Dibanding dengan sekarang, yang yah….saya sendiri ga sanggup menjelaskannya. wkwkwkwkwkwkw

Ada banyak orang yang memberi kesan-kesan mereka ketika bercerita pada saya tentang ortu saya. Dan saya sangat bangga terutama kepada Bapak saya yang sangat mereka kagumi.
Meski dia ga setampan bapaknya orang-orang di luar sana, tapi Bapak saya memberi kesan yang sangat dirindukan oleh orang-orang yang mengenalnya. Rata-rata membanggakan keramahan dan jiwa sosial Bapak yang begitu tinggi. Saya semakin bangga ketika banyak orang bilang semakin hari wajah saya semakin mencerminkan wajah Bapak saya.

Tentang ibu saya, ga banyak yang spesial kecuali bagaimana orang-orang yang mengenalnya sejak kecil mengagumi kecantikannya. Yah…dibanding Bapak yang biasa aja dari segi fisik dan status sosial mungkin mama begitu luar biasa. Mama cantik dan jadi primadona di UNILA di tahun 1985-1990.

Selain itu status sosial kakek yang katanya lumayan terpandang begitu berpengaruh terhadap betapa tenarnya mamaku. Namun, semua cuma tinggal kenangan…karena mama dengan kondisi sakitnya sekarang bahkan jarang diingat penggemar-penggemarnya dulu di lampung.

Saya ga bermaksud menyakiti hati mama saya (jika saja dia membaca ini) atau memberikan rasa kagum berlebihan kepada Bapak saya… tapi hanya ingin belajar dari dua orang yang telah bekerjasama untuk menghadirkan saya ke bumi ini ^__^

Dua orang dengan dua karakter dan latar belakang berbeda. Mama dengan rasa bangga atas segala kemanjaannya dan papa yang rendah hati dengan segala perjuangannya menjalani kehidupan yang begitu keras dan menggila ini. Keduanya berpartisipasi membangun karakter saya sekarang. Rasa percaya diri saya tentu saja karena mama, mama selalu mengatakan bahwa saya pintar, saya cantik dan saya ini luar biasa. Pujian-pujian mama membuat saya selalu merasa percaya diri berada di kalangan manapun.

Kebanyakan yang saya warisi adalah karakter-karakter Bapak yang pintar bersosialisasi dan berjiwa sosial tinggi. Buktinya, saya gampang bergaul meski dilempar ke tempat paling kejam sekalipun. Saya berteman dengan banyak orang, bahkan tukang ojek yang sering saya lewatin setiap saya pulang kerja begitu akrab dengan saya.  Bapak ga pernah mengajarkan saya untuk memilih teman, asalkan saya berjanji untuk ga mengikuti teman-teman yang buruk, Bapak membebaskan saya bergaul dengan mereka.

Yang paling diingat teman-teman Bapak ketika mereka bertemu saya adalah senyuman saya yang sangaaaaaat mirip dengan senyum ceria Bapak. Dan kebanyakan yang mengagumi senyuman itu adalah kaum ibu yang semasa gadis ‘katanya’ mengagumi Bapak saya.

Lucu juga sih… saya ceritain ke Bapak bagaimana respon orang-orang itu dan Bapak hanya terkekeh mendengarnya. Sementara ibu saya ngedumel (pura2 cemburu) di belakangnya.

Selain banyaknya orang yang tidak saya ingat memeluk saya dengan penuh semangat, saya juga bertemu dengan tante-tante saya yang sejak kecil sudah bermain-main bareng ke sana ke sini. Jarak kami terpaut 2-3 tahun saja. karena mama adalah anak pertama dan saya adalah cucu pertama, makanya jarak saya dengan tante-tante saya yang bungsu tidaklah begitu jauh.
Itu juga suatu keuntungan buat saya, jadi meski badan saya kadang lebih besar dari mereka, saya masih manggil mereka dngan sebutan ‘Tante’ ^^

Dan keuntungan jadi ‘keponakan’ adalah dimanja sana sini ^^
Meski ga semanja dulu, tapi saya tetep merasa seperti anak kecil saja kalau bertemu tante-tante saya itu.

Hm… ini cerita saya tentang hari pertama, kalau sudah ada futu2 kegiatan saya hari kedua, pasti bakal saya ceritain kejadian lucu di pinggir sawah ^^

Smangat pagi!!!!

Advertisements

32 thoughts on “DUA jadi SATU

    • ahahahaha
      karena dah kerja jadi ga dikasih Sop, tp di kasi ongkos pulang sama Om (suami tante) krn memang dia yang maksa saya dateng 😀

  1. Dua jadi satu
    bagus juga ngambil judulnya hehe..
    dari dua orang dengan karakter berbeda melahirkan satu yang mungkin saja memiliki karakter dari keduanya.. di lampung mabok duren donk ya 😀

  2. salam kenal 🙂
    happy for you punya keluarga yang bahagia 😀 *ikut senang* …gimana menurut mba ttg lampung? lumayan lah yaa *narsis sbg org lampung* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s