Meaningful Love

Mentari jingga di balik jendela mengetuk mataku yang terkantuk-kantuk menatap dia yang berbaring lemah di hadapanku. Mata yang selalu berbinar menatapku penuh harap itu kini terpejam lelah.
Mentari jingga…. mengingatkanku akan perpustakaan kampus yang menjadi saksi bisu perkenalan kita.

” Namaku Andre, Andreas Gilberto, nama kamu? ”

Suara indahmu yang pertama terdengar ditelingaku masih membekas jelas seakan baru kemarin terjadinya. Aku termangu menatap betapa indah Tuhan menciptakan wajahmu, bibirmu nan merah , matamu yang selalu berbinar dan hidungmu yang mancung…..

“Apakah kamu Vidya?” masih suaramu menggetar hatiku dan menyentak lamunanku ketika itu. Dengan malu aku hanya mengangguk masih merasa kikuk.
Mengenalmu ternyata membuat aku semakin mengagumi keindahan sempurna yang Tuhan berikan untuk setiap orang.

Tiga tahun setelah itu dengan cara yang begitu unik kamu menyatakan kesiapanmu menjalani hubungan lebih dari sekedar teman kuliah saja.

” Aku memang tak menjanjikan langit, bintang dan sejumlah alam, tapi di hatiku ini kamu begitu khusus Vid…hanya itu saja yang bisa aku berikan. ”

Aku masih tak bisa percaya, bahkan sampai sekarang pun masih bertanya-tanya, apakah kelebihan gadis biasa yang tak secantik dan semodis teman-teman dekatmu itu Ndre… Mengapa aku????

Kencan pertama di danau, dan kamu masih belum bisa memberikan alasan karena cinta tak butuh alasan, begitu kah???
Kencan-kencan berikutnya di danau (lagi) dan kamu bilang kamu merasakan damai bersamaku seperti saat kita berada di danau itu. Suara burung bersahut-sahutan, suara air tenang dan hembusan angin yang menyejukkan… Kesemuanya tak cukup mewakili rasamu terhadap diriku.

Bersamamu membuat aku menjadi wanita seutuhnya, dicintai dengan cinta tulus…
Sampai akhirnya permintaanku yang konyol membuatmu harus berjuang di sini sekarang….

” Aku bosan Ndre…. Kenapa harus mobil? Kita pakai motorku saja yah? ” aku merengek memohon dengan tampang memelas sore itu sebelum kita berangkat kencan. Kencan ke seratus limapuluh sejak kita jadian 1 tahun yang lalu, setidaknya begitulah yang tertulis di buku harianku.

Jalanan licin, kabut dan udara dingin membuat konsentrasimu buyar dan motorku menembus pembatas jalanan dalam sekejab meluncur menuruni bukit curam menuju danau. Masih membekas luka ringan di lenganku ketika kamu mendorong aQ turun dari motor melepaskan pelukan eratku yang setengah mengantuk…..

” Vid…. ” rintihmu membuyarkan lamunku tentang kejadian pilu yang kita lalui semalam.
” Ya? Ndre…. ” sontak aQ menggenggam jemarimu dan menatapmu yang mulai membuka mata perlahan…. Aku senang akhirnya kamu sdr Ndre, batinku…

” aku sayang kamu… ” bisikmu lembut sambil menatap aQ ” Maaf… ” satu kata yang seharusnya aku ucapkan, entah mengapa aku hanya terdiam. Lidah terasa begitu kelu ketika merasakan jemarimu mendingin dan grafik itu semakin mengerucut….
Air mata menutupi pandanganku menuju grafik berjalan itu dan aku hanya mampu sesunggukan menahan tangisku berusaha mengucapkan sesuatu.

” Maaf… maaf…. ” hanya itu dan aQ tak sadarkan diri kemudian terbangun di tempat tidur hangat kamar kesayanganku.
Masih tertatih karena nyeri di kakiku, aku berusaha berjalan menghampiri suara-suara di luar pintu kamar.

Mamaku memegang erat tangan mamamu yang masih menangis sesunggukan. Berapa lama aku tertidur? Bagaimana Andre? Mengapa tante Hilda menangis? Pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku membuat aku semakin gugup.
Akhirnya mereka menyadari kehadiranku disana. Dengan cepat tante Hilda berjalan memelukku dengan begitu erat sambil tetap menangis sesunggukan.

==================================================================

Senja ini aQ duduk sendiri di tepi danau, membaca tulisan terakhirmu di buku harian yang aku berikan sebagai kado ulang tahunmu dua tahun lalu. Saat persahabatan kita mulai terjalin.
Tak ada yang berbeda Ndre kecuali saat ini aku tak lagi bersandar di dadamu seperti dulu mendengar degup jantungmu sambil menikmati hembusan angin.
Namun kali ini pohon kenangan yang semakin tua ini yang menjadi tempatku bersandar… suara burung, suara air dan hembusan angin, masih ingatkah?

Lembar demi lembar buku harianmu melukiskan apa itu cinta Ndre, hingga akhirnya aku merasa malu pada diriku yang tak memiliki ketulusan cinta seperti hatimu mencintaiku sejak pertama melihatku di perpustakaan…

25 Juni 2009

” Dear diary… tahukah kamu kenapa aku mencintai dan yakin dialah belahan jiwaku?
Bukan hanya karena semua kelebihan yang di punya, tapi karena kekurangannya membuatku menjadi lelaki seutuhnya. Hari ini akhirnya aku mengikuti keinginan Vidya untuk mengendarai motor menuju danau, seperti aku berjuang mengalahkan traumaku dengan motor, aku juga akan berjuang memberikan lamaran terindah untuk Vidya…
Hope the best for us… “

{Tulisan terakhir itu membuatku merasa semakin menyadari betapa bodohny aku tak pernah tahu trauma Andre terhadap motor karena kecelakaan yang merenggut nyawa papanya….}

Ndre… dua tahun sudah sejak kepergianmu, dan rasa sakit merindu ini masih belum beranjak dari hatiku. Namun cintamu memberi aku keyakinan betapa kamu sungguh ingin aku berbahagia.

Dan hari ini aku berjanji akan melanjutkan hidupku tanpa larut lagi dalam kesedihanku
Mencintai setulus cintamu dan menemukan lelaki baik yang setulus kamu mencintai aku…

Advertisements

9 thoughts on “Meaningful Love

  1. Wah…sungguh suatu penyampaian pesan yang penuh akan makna yang tersurat dan tersirat, itulah suatu keajaiban yang dimilik oleh kekuatan pikiran manusia. salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s