Memory in Djogja

Tempat yang menarik di pulau Jawa yang pernah Debby kunjungi adalah ‘Djogja’

Di tempat itu, Debby mengenal sisi lain dari kehidupan sosial bangsa Indonesia yang mungkin menurut banyak orang (termasuk Debby) udah terlalu semrawut :D. Apalagi mobilitas kehidupan di Jakarta yang super duper penat, rasanya melihat Jogja pikiran bisa lebih tenang πŸ˜€

Perjalanan Debby pertama kali menuju Djogja juga penuh cerita seru loh temans, bisa-bisanya dengan mengantongi 200rb (sisa gaji 2 bulan :D) Debby memberanikan diri menjelajah Djogja. Nginepnya sih di rumah tante , transportasinya dikawal sama Bang Dohar, Rabin, Dita dan Thomas (sahabat-sahabatku dari Jesus Family πŸ™‚ )

Berangkat dengan kereta api senja kelas bisnis (tiket berangkat ditanggung kak Imey karena rencananya mw baren

gan, tp kak Imey malah ga jadi berangkat ) 😦

Di kereta ternyata ga senyamanyang Debby bayangkan… tumben2nynya kereta itu padat. Ternyata karena kedatangan Debby itu bertepatan sehari sebelum acara ‘Sekaten’ yang memang biasanya ramai dikunjungi perantau.

Jadilah di kereta itu berhimpit-himpitan kayak mau lebaran:D

Tapi seru lho, temans…sampai di Djogja, Bang Dohar ajak aQ sarapan di daerah kampus UGM. lumayan enak lontong sayurnya..:D

Touringnya kami mulai dari pagi, dengan 2 motor, aQ , Rabin, Bang Do, dan Thomas mulai menjelajah Djogja… Pertama ke Borobudur, narsis-narsisan di atas stupa sambil ngakak-ngakak, karena kalo udah ngumpul kita berempat bisa seruuuuu bangets,

lalu dari sana kita ke angkringan di Tugu (Debb ga sabar pengen minum kopi tubruk yang katanya enak itu). Di pinggir stasiun itu Debb banyak melihat seniman-seniman jalananyang kreatif dan ga kalah bertalentanya dengan artis-artis dan seniman yang ada di TV. πŸ˜€

Tapi sebelum itu Debb mau cerita tentang restoran Jamur di jalan Magelang, temans.. di sana makanannya serba jamur (bukan jamuran lho :D). Kita pesan semua makanan dengan resep berbeda. Alhasil ketika akan lanjut perjalanan, perut kami terasa begitu berat (kekenyangan mode ON)

Oh, ya tempe mendoan adalah makanan favorit Debby selama di sana πŸ˜€

Karena melihat ramenya orang-orang menuju pelataran keraton Djogja, Debb jadi tertarik melihat ada apa gerangan di sana πŸ˜€

Makanya, Bang DO walau sudah lelah (thanx so much Bang…) tapi tetep nekad menemani Debb dengan rasa penasaran itu. Ternyata benar…malam sebelum acara puncak ‘Sekaten’ bener-bener ramai lho, temans

Rasanya semua penduduk tumpah ruah di sana, mau jalan aja susah πŸ˜€

Tapi tetep aja di sela padatnya orang yang berjuang untuk jalan, kami masih bisa narsis-narsisan di depan pintu masuk pasar malamnya :))

Sampe di dalam,ternyata isinya bener-bener persis sama pasar malam yang pernah Debb lihat di Cikarang. Ada tong setan, ada rumah hantu, ada bazaar dan ada bianglala. Dari semuanya yang tertarik untuk kami nikmati cuma ‘bianglala’. hahahhahahaha

ada tuh foto aQ dan Bang Do sedang berada di puncak paling atas bianglala dengan penuh tawa (padahal udh agak ketakutan tuh bianglala ga kuat menahan bobot besar kami berdua )

Sayangnya, aQ harus ke Cilacap besok malam harinya karena nenek yang di Cilacap udah ga sabar juga ketemu aQ. Jadi aku harus berpisah dengan Bang Dohar, Thom2 dan Rabin walau masih pengen banget jalan-jalan bareng mereka. Kebetulan nenek juga sedang ada di Jogja waktu itu dan keesokan harinya aku dibawa ke pantai Kukup bersama tante dan omku yang masih kecil (sepupu mama paling muda πŸ™‚ )

pantainya bagus tp membuataQ jadi makin hitam … kata nenek (yang udah pernah ke Bali) pantai itu ga kalah bagusnya dengan pantai di sana lho… Ombaknya ga terlalu besar karena ada batu-batu karang penghalang…tapi tetep aja serem kalo berenang di sana πŸ˜€

Kenapa ada kisah bawa uang 200rb pulang bawa 300rb??? karena akhirnya aku ga pakai duitku sama sekali, Bang Do dan teman-teman semua bener2 baik memberi pelayanan spesial wat tamu jauh ini πŸ˜€

Sampai di Cilacap nenek membawaku ke Gua Pendem, seru juga keliling Cilacap lho. Kota kecil namun tenang banget…sama kayak orang-orang di Djogja, penduduk sana juga ramah-ramah. Sayang banget karena cutiku habis, jadi ga sempet mampir di Nusa Kambangan melihat penjara yang ada di pulau itu. Tapi yang lebih berkesan adalah ketika nenek membekali tempe mendoan yang mateng sampai yang mentah utk d masak di kosanΒ  πŸ˜€

Tempe matengnya ga habis dan jadi buat sarapan rame-rame begitu sampe kosan. Bener-bener puas deh makan mendoannya.

Yeah… itu sekilas perjalan pertama Debby ke Djogja, perjalanan kedua memang lebih ramai karena ada 2 paribanku dan 3 teman kecilnya ikut dalam perjalanan itu. Perjalanan juga lebih jauh, ke Sendangsono, pantai Pangandaran dan Candi Prambanan. di Candi Prambanan kami menghabiskan ‘tahu super’ sampai kekenyangan (doyan makan tahu πŸ˜€ )

Meski perjalanan kedua ada banyak hal ga menyenangkan terjadi , tp buatku Djogja adalah tempat yang paling seru untuk aQ kunjungi. Murah meriah lagi πŸ˜€

Uhhh..jadi kangen neh ke sana lagi. Tapi mungkin kalaupun ke sana , aQ berencana mampir ke Semarang dulu bertemu dengan Helmina sahabatku sejak SMP dan Mba Mayli (JFers juga) yang udah lama banget pengen aku datangi πŸ˜€

Kali ini target buruan bukan lagi kopi tubruk dan tempe mendoan, tapi soto Semarang dan lumpianya :))

mudah2an dapet kesempatan ke sana.. πŸ˜€

Advertisements

10 thoughts on “Memory in Djogja

  1. Jogja… meski lahir di sana & besar disana, nggak bikin aku jadi bosen. Gaya hidup yang “sak-madya” membuat harapan hidup masyarakat disana lebih tinggi dari kota – kota yang lainnya.
    Tapi pembangunan di titik – titik penting kota nggak terlalu berpengaruh pada sudut – sudut kampung. Masih sama dan belum berubah πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s